Oleh Nur Afni Damayanti (8A)

 

Dino adalah sahabatku ketika aku masih kecil. Aku sering bermain dan bersenda gurau dengannya. Waktu aku duduk di bangku SD, SMP maupun SMA aku masih bersahabat dengannya. Orangnya baik, enak diajak ngomong,  dan perhatian. Pada waktu aku mulai bersekolah di SD tepatnya SD Harapan I, aku sering diajak main bareng walaupun sebenarnya dia bukan teman satu kelasku namun dia kakak kelasku. Ketika di rumah pun aku sering bermain dengannya, karena dia sahabatku yang paling baik. Teman-temanku sering menjelek-jelekkan namaku dihadapan Dino. Tetapi Dino bersikukuh selalu menjadi sahabatku dan kelihatannya dia tidak percaya dengan omongan teman-temanku.

Ketika aku duduk di bangku SMP yaitu di SMP Tunas Jaya Jakarta, aku juga masih satu sekolah dengannya. Aku pun masih bersahabat dan sering bersenda gurau dengannya. Teman-temanku kaget karena ketika aku baru masuk pertama sudah mempunyai sahabat yang baik dan perhatian. Pada waktu istirahat dia datang ke kelasku yang berada di depan kelasnya.

“ Permisi, apakah disini benar kelasnya Shanty?” tanya Dino.

“ Ohh.. iya.. iya benar sini kelasnya Shanty. Memangnya ada apa kok cari Shanty?” sahut teman-temanku.

“ Tidak ada apa-apa kok, sekedar mau ngajak maen bareng aja. Memangnya Shanty kemana?”

“ Ooo… Shanty sedang di Ruang Guru. Memang kamu itu siapanya Shanty, sih?” jawab temanku heran

Gue itu Dino sahabatnya Shanty dari kecil.”

Sewaktu aku kembali ke kelas, Dino masih berada di dekat pintu dan sedang berbincang-bincang dengan temanku.

“ Ehh… Shanty kamu dari mana?” tanya Dino.

“ Ini baru dari Ruang Guru, kamu sudah lama disini?” timpal Shanty.

“Baru sebentar. Ke kantin, yuk!”

Sontak teman-temanku pada ngeliatin aku semua. Aku merasa risih jadinya.

“ Kenapa sih Shan kok teman-temanmu itu kayaknya agak gimana gitu kalo sama kamu?” Tanya Dino.

“ Aku juga nggak tahu, Din. Mereka itu selalu menjelek-jelekanku.” jawab Shanty.

“ Ya sudahlah, tidak usah dipikirkan.”

Aku dan Dino memesan makanan sesuai selera masing-masing. Ketika aku dan Dino makan, teman-temanku ngintip dari belakang. Meskipun sebenarnya aku tahu kalau itu temanku tetapi aku tetap diam dan melanjutkan makan. Bel masuk berbunyi, aku dan Dino menuju kelas.

Sesampainya di kelas, teman-temanku ngeliatin aku dengan tatapan keheranan. Aku hanya diam dan tidak begitu peduli dengan teman-temanku sampai bel pulang berdentang.

Di depan pintu sudah ada Dino, dia mengajakku pulang dengannya. Namun aku menolak karena aku akan belajar bersama teman-temanku. Sebenarnya aku lebih suka pulang bersama Dino daripada belajar bersama para pembuli. Aku yakin, pasti sesampainya di rumah Filla nanti mereka hanya membuli dan mengintrogasiku.

Firasat terbayar sudah, pertama-tama mereka menatap mataku dengan tajam. Kemudian mendekatiku dan berbincang-bincang denganku menanyakan tentang Dino.

“Shan, sebenarnya Dino itu siapamu sih? Sepertinya dia itu begitu perhatian denganmu.” tanya Rina.

“ Dino itu sahabatku dari kecil dan memang benar dia itu orangnya baik dan perhatian. Memangnya kenapa, kalian pada nanyain itu?” sahut Shanty heran.

“ Tidak, tidak ada apa-apa, aku hanya merasa aneh saja karena kamu begitu dekat dengan Dino.”

Belajar bersama mereka merupakan kenangan terakhirku dengan mereka. Karena sesudah itu, aku tak pernah satu kelompok belajar dengan mereka lagi bahkan berbincang-bincang pun tak pernah lagi.

Namun, ketika perpisahan berlangsung, saat itu juga merupakan terakhir kalinya pertemuan dengan mereka dan hanya sepatah kata yang terucap dari mulut mereka. Karena kami berpencar ke berbagai penjuru wilayah meneruskan sekolah di jenjang Sekolah Menengah Atas.

Hanya aku dan Dino yang bertahan bersama satu sekolah di SMA Pelita. Karena satu sekolah, aku dan Dino semakin dekat dan akrab. Seperti anak kembar yang tidak bisa dipisahkan.

Kebersamaanku dengan Dino hanya sampai di SMA saja. Dia memilih jurusan dokter gigi sedangkan aku psikologi. Dengan berpisahnya kami, Dino sama sekali tak pernah menghubungiku.

Ketika aku wisuda, ayahku mengatakan bahwa Dino dan keluarganya pindah ke rumah saudaranya yang ada di Bandung. Saat itu juga Dino juga ingin berlibur ke Jakarta.

Akhirnya aku bertemu Dino pada saat mendaftarkan kerja. Tapi dia tidak menyapaku sama sekali tapi dia lebih mementingkan teman barunya daripada aku, walaupun aku sahabatnya dari kecil. Pada waktu itu aku berusaha mendekati Dino, tapi dia selalu menjauh dariku. Dino kelihatan berubah dari sebelumnya, dia sudah tidak perhatian lagi.

Namun pada akhirnya, Dino juga mendekatiku.

“ Shanty aku itu kangen banget sama kamu, dan aku itu baru sadar kalau kamu itu adalah Shanty yang sebenarnya. Selama ini aku mengira kalau kamu itu adalah temanmu yang mirip sama kamu. Maafin aku ya Shan, sekali lagi maafin aku.” pinta Dino.

“ Iya nggak apa-apa kok, aku maafin. Aku juga kangen sama kamu Din dan aku itu selalu kepikiran kamu.” jawab Shanty.

“ Iya Shan, lama kita tak bertemu rasanya hidupku begitu sepi tanpamu.”

“ Aku juga merasa sepi tanpamu Din, aku selalu kepikiran kamu.”

Malam harinya Dino mengajakku dinner. Dino ingin mengatakan sesuatu kapadaku.

Pukul 19.00 WIB, Dino sudah sampai di depan rumah. Aku pun keluar mengenakan gaun kesayanganku, karena gaun itu pemberian kakaknya yang telah tiada.

Setibanya di restaurant, keheningan tercipta antara aku dan Dino. Kami saling diam membisu.

Kuberanikan diriku untuk memulai pembicaraan.

“ Ngomong-ngomong, kamu tadi mau ngomong sama aku apa ya, Din?”

“ Emm… sebenarnya aku itu sayang kamu Shan.”

Shanty hanya diam, tak terucap satu kata pun dari mulutnya.

“ Shanty aku ini beneran.” tegas Dino.

“ Sebenarnya, aku juga sayang kamu.”

Mulai saat itu, hubunganku dengan Dino bukan hanya sekedar sahabat lagi. Melainkan berhubungan lebih serius lagi.

***0***

Leave a Reply

Kalender
May 2019
M T W T F S S
« Apr    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Categories
Archives