Oleh Febriana Putri Istiqomah (8A)

 

Saat matahari mulai turun dari peraduannya, semburat warna merah menyertainya. Aku mencoba menatapnya. Indah sekali! Warna terang yang tampak di balik awan seperti menggambarkan keadaan dunia yang bersuka ria. Sayang, keindahan itu tak seindah kehidupanku. Namaku Rumy. Umurku 40 tahun. Aku sudah bersuami, umurnya 1 tahun lebih tua dariku. Pekerjaannya hanya sebagai penarik becak. Namanya Wilujo. Kami sudah mempunyai seorang putra bernama Adit. Seharusnya kini dia duduk di bangku kelas 4 SD. Namun, karna keterbatasan biaya dia harus berhenti sekolah. Sehari-hari dia hanya membantuku sebagai seorang buruh cuci.

Kutengok jam dinding, menunjukan pukul 17.00 WIB. Aku mulai merebus air, menanak nasi dan menggoreng ikan asin untuk jamuan makan malam hari ini.

“Assalamualaikum.”

“Wa,alaikumussalam, eh bapak sudah pulang?” sahutku.

“Iya ini Bu, Adit mana bu?” Tanya suamiku.

“Ada pak dikamar. Le sini dicari bapak ini lho.”

Tak berapa lama putraku muncul dari bilik pintu yang hanya terbuat dari triplek usang.

“Ada apa to pak?” Tanya putraku.

“Ini lho le. Tak bawa’in kucing. Cantik to. Warnanya hitam, matanya kuning menyala.”     Ujar suamiku.

“Walah pak medheni.”

“Bapak dapet kucing ini darimana pak?” tanyaku penasaran.

“Tadi nemu dideket kuburan bu.” Jawab suamiku sembari mengelus-ngelus bulu hitam si kucing.

“Woalah pak yaudah ndak apa-apa. Sik penting kucinge gak ganggu.”

Percakapan kami berhenti disitu karna azhan magrib sudah berkumandang. Kami segera bergegas menuju mushala dekat rumah. Setelah menunaikan ibadah sholat magrib kami makan malam. Karna lelah tubuh seharian bekerja kami memutuskan tidur.

***

Pagi itu, didepan rumah. Suamiku sedang mencuci becak kesayangannya, dan putraku bermain dengan kucing yang dibawa suamiku kemarin sore. Sedangkan aku menjemur pakaian ketika tiba-tiba Pak Marji seorang dukun kondang di desa kami lewat.

Dherek langkungPak Wilujo.” Sapanya.

“Oh njih-njih pak. Monggo-monggo. Mau kemana ini Pak Marji?” Jawab suamiku.

“Cuma mau jalan-jalan ini pak. Eladalah bapak punya Candramawa to?” tanyanya.

“Candramawa apa to pak?” sahutku heran.

“Itu lho bu, kucing hitam yang dibawa Adit. Itu namanya Candramawa. Dia bisa mendatangkan rizki. Makannya dirawat baik-baik Bu. Yasudah saya mau lanjutkan jalan-jalan dulu. Mari.” Jelas pak Marji panjang lebar.

Belum sempat aku menjawabnya. Bu Diah sudah mendahului bicara ternyata majikanku itu sudah sedari tadi dibelakangku.

“Rumy.”

“Bu Diah? Sudah lama ya bu?” tanyaku kaget.

“Oh tidak juga, hanya sempat sedikit dengar pembicaraan sama Pak Marji tadi.”

“Oh iya, ini Bu cucianya sudah.” Ujarku sembari menyodorkan tas lengan berisi pakaian-pakaian yang sudah kucuci dan kutata rapi.

“Terimakasih ya. Ini uangnya. Rum, boleh aku beli kucingmu itu?” tanyanya sembari menyodorkan uang 20ribuan.

“Maaf bu. Kucingnya bukan untuk dijual.” Jawabku tak enak.

“Tak apalah Rum. Aku akan bayar berapa pun.” Desak Bu Diah.

“Aduhh saya bener-bener ndak bisa beri buk. Itu dari suami saya buat anak saya je.”

“Ya sudah. Saya pulang dulu.” Pamit Bu Diah, dengan wajah merah padam.

 

***

Sore telah menjelang malam. Aku sudah menyiapkan rapi makanan-makanan untuk malam ini. Menunya hanya sama seperti kemarin. Ya, inilah makanan kami sehari-hari. Maklum penghasilan kami tidak menentu. Tapi aku heran tadi aku menggoreng ikan asin 4 ekor mengapa sekarang tinggal 2 ekor.

“Bapak tadi aku goreng ikan asin 4 kok tinggal 2?” tanyaku kepada suamiku.

“Aku kasih ke Hitam bu.” Jawab suamiku seenaknya.

Hitam adalah kucing Candramawa itu.

“Ah bapak ini gimana? Memanjakan kucing. Cari duit susah pak malah dibuang-buang.” Ujarku marah padanya.

 

***

Siang hari yang panas, setelah aku kelar menyuci pakaian aku menuju rumah. Aku mendapati kasurku penuh dengan kotoran kucing. Karna lelah, emosiku tak terkendalikan. Aku mencari kucing itu dengan membawa tongkat kayu. Setelah menemukannya aku memukulnya sampai mati. Aku memasukkan kucing tadi kedalam karung dan menghanyutkannya ke sungai belakang rumah.

Ketika aku kembali kerumah putra ku terkujur lemah di kasur tadi, dengan mulut penuh busa. Sontak aku kaget dan berteriak. Tetangga-tetanggaku segera menolongnya. Tak berapa lama Pak Narji teman suamiku datang mengabarkan bahwa suamiku kecelakaan dan tewas ditempat.

 

***

Dua  hari berlalu semenjak kematian suami dan putraku aku merasa seperti tak hidup juga tak mati. Aku baru menyadari setelah pak Marji menjelaskan semua kemarin. Bahwa ulahku membunuh Candramawa mengakibatkan suami dan putraku meninggal dunia. Apakah benar begitu ?

 

***0***

Leave a Reply

Kalender
March 2019
M T W T F S S
« Apr    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Categories
Archives