Oleh Febriana Putri Istiqomah (8A)

 

Seruan Shalat subuh sedang dikumanangkan. Aku terbangun, masih ngantuk rasanya. Kutarik selimut sampai ke batas pundak. Kurangkul guling dengan eratnya. Sayup-sayup kudengar langkah cepat seseorang mendekat, menuju kamarku.

“Ayo bangun nak?”

“Masih ngantuk bu Marni.” Jawabku malas.

“Ayo nak, kita shalat dulu. Keburu pagi, kita kan harus kepasar?” bujuk Ibu Marni.

Bu Marni adalah ibu angkatku. Beliau pribadi yang sangat baik dan lembut hatinya. Dibalik kerudung beliau, tersimpan paras yang cantik menawan. Tak ada gurat penuaan yang terlihat di raut wajahnya.

Beliau tidak pernah mengingatkanku dengan cara membentak atau marah-marah, hanya sekedar menasihati dengan tuturnya yang santun. Apa yang kumau pasti beliau beri, selagi beliau mampu. Tentunya yang baik-baik dan tidak keluar dari norma agama juga norma susila.

Aku sudah diasuh beliau selama 5 tahun. Setelah kepergian orangtuaku karna kecelakaan. Saat itu aku masih berumur 9 tahun. Sebelumnya Ibu Marni hanya tinggal seorang diri karna dia juga telah kehilangan suaminya.

Jujur sampai saat ini, aku belum juga bisa memanggilnya dengan sebutan Bunda.

“Iya bu.” Ujarku mengiyakan.

Aku segera beranjak dari ranjang kasurku yang empuk. Kulepas kerudung berwarna putih yang semalam kukenakan untuk tidur. Dan bergegas menuju sumur belakang rumah, untuk mengambil air wudhu.

Sebelum berwudhu aku harus menimba air sumur yang dalamnya 3 meter ini. Bentuk timba yang kukenakan adalah katrol dengan tali yang berbahan karet ban. Dan sebuah ember yang dikaitkan di salah satu ujung tali. Talinya diletakan dikatrol untuk mempermudah menariknya.

Tak lama aku menimba. Ini sudah kebiasaan. Airnya kemudian kumasukan kedalam kendi, sebuah guci yang tebuat dari tanah liat, dibagian depannya terdapat moncong kecil tempat keluarnya air. Dengan tutup yang terbuat dari karet ban berbentuk lonjong kecil.

Aku membuka moncong kendi itu, dengan cara melepas tutupnya. Air gemericik mulai meluncur. Kutadahkan kedua telapak tanganku dibawah moncong itu. Dingin air menyeruak dikulitku. Hembusan angin kian menambah kebekuan pagi ini. Sesekali aku bergidik merinding merasakan dinginya air.

“Nak, kenapa lama?” Tanya ibu Marni dengan lembut.

“Maaf bu, tadi aku nimba dulu.”

“Oh ya sudah, Ibu tunggu di ruang shalat ya nak? Kamu segera nyusul, jangan berlama-lama.”

Aku hanya mengangguk setuju. Kemudian aku menutup moncongnya kembali, dan segera menuju ruang shalat dengan berlari kecil. Mengambil mukenah di dalam almari berukuran sedang disudut pojok ruang shalat.

Aku berdiri dibelakang sebelah kanan ibu Marni. Memakai mukenah dan beriap diri untuk mengampun dan menghamba kepada yang diatas.

Tak berapa lama kami selesai shalat subuh. Aku mendekat bu Marni. Mencium pipi dan kedua tanganya. Dibalas bu Marni dengan mencium keningku. Suasana ini sangat begitu hangat. Terimakasih Ya Allah kau telah sempurnakan hati ini dengan kehadiran beliau.

Aku dan bu Marni melepas mukenah bersamaan, bu Marni meminta mukenahku. Dan beliau tumpuk jadi satu dengan mukenahnya, lalu beliau letakan di almari.

“Sudah siap kepasar kan nak?”

“Ah mandi dulu ya bu, ini juga kan hari sabtu! Lagian aku masuk jam 8 kok.” Ujarku.

“Ya sudah kalau gitu ya ndak papa, kamu mandi dulu. Ibu kira kan masuk jam 7, kayak biasanya.” Jawab ibu.

Dengan langkah gontai aku menuju kamar. Mengambil pakaian ganti dan sehelai handuk bewarna pink bergambar Hello Kitty. Kemudian menuju kamar mandi.

Kamar mandiku terletak berdekatan dengan sumur. Sama seperti berwudhu, setiap mau mandi aku harus menimba air dulu. Bedanya, kalau mandi airnya di taruh langsung ke ember bukan di kendi..

Kamar mandiku hanya kecil, berbentuk persegi berukuran 2×3 meter dengan tinggi 2 meter. Didingnya terbuat dari batu bata yang disusun dan direkatkan dengan semen, sekarang batu bata itu kian berlumut. Sedangkan lantainya hanya bersemen kasar.

Sekitar 10 menit aku selesai mandi dan siap pergi kepasar. Aku dan bu Marni biasa pergi kepasar menggunakan motor metik milik bu Marni.

Beberapa saat kami telah sampai dipasar. Tujuan pertama bu Marni adalah ke toko Cik Alim, orang china penjual tahu putih. Dan tugasku hanya mengikuti bu Marni dan membawakan bawaan beliau. Setelah dari toko Cik Alim, bu Marni menuju warung bu Samiran, warung serba ada. Disana kami membeli berbagai sayuran dan kebutuhan memasak lainnya.

Selanjutnya kami menuju tempat khusus danging. Di tempat khusus daging ini, bu Marni mempunyai 2 penjual langganan. Yang pertama mang Mamat penjual daging ayam, dan yang kedua Pak Wariun penjual daging sapi.

Sekarang kami akan ke tempat mang Mamat. Tentunya untuk membeli daging ayam. Karna rencana  bu Marni, hari ini akan memasak soup sayap ayam. Tanpa sedikitpun penawaran disini ibu sudah mendapatkan diskon. Namanya juga langganan.

Kutengok jam tanganku. Menunjukan pukul 06.30.

“Bu Marni, pulang yuk udah jam setengah tujuh nih?” ajaku.

“Iya nak, ayo.” Sahut bu Marni.

Sesampainya dirumah aku menata semua barang belanjaan di almari dinding dapur. Setelah selesai berberes-beres, aku mengambil air mineral dan duduk dikursi dekat meja makan. Aku mengelap peluh-peluh keringat dengan tanganku. Sesekali aku juga meneguk air mineral.

Sedangkan bu Marni sudah bergelut dengan bahan-bahannya. Memasak, dan apa saja bahan yang dipegang bu Marni pasti akan menjadi masakan yang tidak kalah dengan masakan hotel berbintang 5. Pantas saja karna almarhum ibunya adalah seorang koki desa yang handal dan terpercaya kelezatan masakannya.

Aku bangkit dari kursi dan mencuci gelas minum yang usai kupakai. Aku menuju kamar. Merapikan diri dan bersiap-siap berangkat sekolah. Setelah semua sudah siap aku menuju dapur kembali. Ternyata makanan sudah tersaji. Aku segera sarapan bersama bu Marni dan berangkat sekolah.

Kuayunkan kakiku menginjak ubin demi ubin hingga akhirnya sampailah aku diruangan cukup luas, dengan suasana ramai. 10 C ini dia kelasku.

Duduklah aku disebuah bangku penuh corat-coret type-x dan bolfoin dari tangan-tangan usil. Tapi aku tak begitu menghiraukannya. Aku duduk disebelah Bela. Dia adalah temanku, umurnya 1 tahun lebih tua dariku. Dia pintar bermain basket.

Aku mulai mengeluarkan buku. Jam pelajaran pertama adalah bahasa Indonesia, tapi ternyata guru sedang rapat, sehingga pelajaran bahasa Indonesia menjadi kosong. Karna tidak ingin terlena aku pun tetap mambuka buku bahasa Indonesia dan belajar, ketika tiba-tiba Tika mengajakku bicara.

“Fan?”

“Eh Tika, ada apa Tik?” tanyaku santai.

“Kamu mau gak ikut kita-kita nongkrong ntar sore? Habis aku lihat kamu gak pernah keluar rumah sih.”

“Aku mau banget. Tapikan aku bukan termasuk geng kamu. Ntar malah aku malu-maluin lagi?” jawabku ragu.

“Kamu bisa jadi salah satu geng kita kok. Mm, cuma modal tampang kamu sih. Terus, kamu juga bisakan sedikit ngikutin gaya kita. Contohnya  pakek behel, lepas krudung, dan rambut dipirang. Kamu bisa kan?”

“Iyadeh Tik.” Tak mengapa kata itu begitu sajakeluar dari mulutku. Seakan aku akan menurutinya. Tapi tak disangkalaku memang menginginkannya.

Semburat jingga semakin nampak, matahari mulai turun dari peraduannya. Kulangkahkan kakiku semakin cepat. Disekelilingku hanyalah pemandangan seperti biasa. Macet. Seragamku sudah terlihat lusuh karena keringat telah becucuran dari keningku, begitu juga asap-asap kendaraan yang semakin hari semakin memenuhi kota.

Cukup lama aku berjalan, akhirnya sampai rumah juga. Panas sudah  mendera-dera dibenakku. Tidak dengan mengetuk pintu dan mengucap salam aku langung masuk rumah.

“Bu! Bu marni!” teriakku sembari meletakan tas sekolah dikursi ruang tamu.

“Ada apa to nak? Gak seperti biasa kamu teriak-teriak?” Tanya bu Marni dengan keheranan.

“Bu aku mau behel gigi sama rambutku pengen dicat pirang!” pintaku.

“Gigimu itu sudah rapi, nak. Ndak perlu lagi pakek behel. Terus kamu kan juga pakek kerudung, percuma kalau rambutmu mau dicat.”

“Aku kan bisa lepas kerudung. Pokoknya aku gakmau tau!” bentaku sembari masuk kedalam kamar.

Kututup pintu kamarku dengan kerasnya. Kemarahan sepertinya sudah menguasai tubuhku. Kurebahkan tubuhku diranjang. Tanpa terasa aku pun tertidur dengan lelapnya.

Beberapa saat kemudian aku terbangun bersamaan dengan bekumandangnya azhan solat isya’. Ketika tiba-tiba Bu Marni kekamarku. Memberikan sebuah amplop. Tetapi tak sepetah katapun diucapkannya. Aku hanya menatapnya tajam, dan kemudian mengulurkan tanganku untuk meraih amplopnya.

Setelah memberikan amplop itu, Bu Marni keluar dari kamarku. Kemudian aku membuka amplop itu. 3 lembar uang seratus ribuan dan satu surat ada didalamnya. Ku baca surat itu.

“Gunakan uang itu seperti yang kamu mau.

Ibu Marni”

Hari minggu telah tiba. Aku melakukan semua syarat syarat yang diberikan Tika.dari membehel, memirang rambut sekaligus membeli pakaian. Tidak cuma itu, aku pun menjual handphoneku dan membeli yang baru.  Selesai sudah semua.

Aku segera menghubungi Tika dan teman-temannya. Aku disambut dengan gembira. Saat ini yang aku rasakan adalah kesenangan dan kebebasan. Tidak adanya segala tuntutan yang memberatkanku.

Waktu berlalu begitu cepatnya, tidak terasa malam telah menyapa. Aku segera berpamitan kepada teman-teman kemudian pulang kerumah.

Sesampainya dirumah aku bergegas mandi. Walau dingin diluar membuatku menggigil, tetap saja aku bernafsu menyampo rambutku. Setengah jam berlalu aku sudah selesai. Kemudian  aku berniat mematikan lampu kamar mandi karna telah usai ku pakai.

Tetapi aku telah lalai, aku jatuh terpeleset. Tanganku mencoba maraih kabel penghubung lampu yang letaknya di samping kamar mandi, kebetulan saat itu aku berada tepat didepan pintu kamar mandi. Kupikir itu akan membantu., tak kusangka-sangka kabel itu telah usang. Karet yang melapisinya sobek. Sehingga, kawat listrik didalamnya terpegang oleh tanganku yang masih basah. Aku terperanjat kaget. Sengatan tajam kurasakan.

Perlahan kubuka mataku. Silau sekali. Kulihat sekeliling, ah rasanya sedikit nyeri kurasakan dibagian tanganku. Aku mencoba mengingat kejadian apa yang telah ku alami, tapi hanya sekejap kuingat kemudian gelap.  Kulihat hanya ada bu Marni disini.

“Alhamdulilllah Gusti, ndakpapa to nak? “ ujar bu Marni dengan tangis terisak.

Aku menoleh. Kuraskan tanganku bergetar saat akan menyetuh telapak tangan bu Marni. Jantungku berdegup kencang. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori keningku. Aku semakin takut menerima keaadaan dan mendengar apa yang terjadi.

Perlahan bu Marni menjelaskan semua kejadian itu. Berat sungguh kurasakan menerima kenyataan ini. Terlanjur, hanya kata itu yang sanggup ku katakan. Kemudian aku memandang bu Marni.

Ya Allah aku telah jauh dari agamamu. Aku telah terlena dengan dunia ini. Aku tak menjalankan perintahmu. Aku mengabaikan kewajibanku. Ya Allah ampunilah aku atas segala dosaku ini.

Ya Allah, ternyata semua yang diberikan oleh Bu Marni melebihi kebahagiaan saat aku dapat bergaul dengan teman-temanku yang lain. Anugerah yang tak pernah kusangka, justru membawa ku kedalam sebuah arti kasih sayang. Kini aku dapat meyakinkan semua orang, bahwa aku salah satu orang yang beruntung didunia ini.

“Bunda.”

 

***0***

Leave a Reply

Kalender
March 2019
M T W T F S S
« Apr    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Categories
Archives