Karya Hillary Sekar Pawestri (8A)

 

Pagi itu kicauan burung sayup-sayup kudengar. Sinar mentaripun mulai menembus kaca jendela kamarku. Berat rasanya membuka mata ini, namun karna ku ingat akan mimpi semalam aku pun terbangun dari tidurku.

Hari ini rasanya aku bersemangat sekali untuk bersekolah. Memulai hari dengan melihat senyummu di sekolah nanti, entah setan apa yang sedang bersarang di tubuhku, namun sepertinya aku benar-benar suka kepada dia.

“Tania… Sarapannya udah bunda siapin, makan cepet, nanti keburu kesiangan” teriak bunda memanggilku.

“Iya bun, tunggu sebentar” jawabku tergesa-gesa sambil berlari menuju ruang makan.

Setelah selesai makan, aku pun berpamitan pada kedua orang tua untuk pergi ke sekolah bersama Kirana. Seperti biasa aku dan Kirana hanya berjalan kaki, karena jarak sekolah dan rumah tidak terlalu jauh. Hitung-hitung buat olahraga pagi.

Setiba di sekolah, seperti hari-hari yang lalu aku pergi ke toilet dekat kelas dia untuk melihat senyumnya. Aku tak berani ke kelasnya, karena aku takut teman-temannya akan mengejekku. Selain itu dia juga senior, mana berani aku menyapanya duluan. Hanya junior-junior tertentu nampaknya yang mempunyai nyali menyapanya. Setelah melihatnya dengan senyum khasnya itu aku kembali ke kelas dengan wajah cerah ceria.

“ Dari mana tan? Pasti ngintipin kak Muhammad Azka Karisma itu ya, haha?” tanya Kirana padaku.

“Sst.., pelan aja dong, entar pada tahu” jawabku berbisik padanya.

“ Iya-iya sorry, kenapa sih gak berani negur dia?”

“ Ih gila aja ya kamu, mana mungkin aku nyapa dia, malu tau!”

“ Yah, gimana bisa deket sama dia kalau malu ngedeketin?”

“ Yang penting pelan tapi pasti, haha” jawabku tak serius

“haha..,  emangnya ombak laut” Kami pun tertawa bersama.

Tok…tok…tok, pintu kelas berbunyi

“Silakan masuk” jawab satu kelas kami serempak.

Tiba-tiba sesosok yang kerap kali ku lihat, muncul di balik ambang pintu.

“ Permisi, kami mau memberi pengumuman bahwa ekstra basket akan dimulai besok senin pukul 12.30, terimakasih.”

Setelah memberi pengumuman, dan berpamitan dengan guru kelas kami dia pun keluar.

Aku tak bisa berkata apapun ketika dia masuk, bahkan aku pun tak bisa mengedipkan mata, dia adalah orang yang ku suka Muhammad Azka Karisma, seorang ketua OSIS sekaligus kapten basket di sekolah kami. Hampir seluruh wanita mengidolakannya, mulai dari adik kelas sepertiku, juga teman-teman di sekitarnya.

Andaikan aku bisa bertegur sapa dengannya. Mungkin aku tak bisa tidur tujuh hari tujuh malam.  Dan selama itu pula mungkin aku hanya membayangkan itu terus. Sebenarnya aku sering merasa GR setiap bertemu dengannya, karena setiap kita bertemu, dia selalu membalas senyumku dengan wajah berbinar.  Namun nampaknya untuk berbincang-bincang hanya akan menjadi mimpi bagiku karena beberapa hari lagi dia akan lulus. Sedangkan aku masih 1 tahun lagi berada disini. Mungkin setelah kepergiannya semangatku untuk ke sekolah akan berkurang, karena dia adalah salah satu penyemangatku.

Beberapa hari terakhir ini aku agak malas pergi ke sekolah, karena di sekolah hanya memepersiapkan perpisahan untuknya.

“Kir, kira-kira kalau kak Azka bener-bener udah pergi gimana ya?” tanyaku pada Kirana.

“Ah.., lama kelamaan kamu pasti bisa melupakannya, tenang saja masih banyak yang lebih bagus dari dia kok” jawabnya tampak serius.

“Tuh liat, Arya lewat, nggak kalah keren noh.” terusnya samba menunjuk anak kelas sebelah yang baru lewat.

“Nggak semudah itu kali…” sangkalku padanya.

“Gimana bisa lupa kalau nggak berusaha.” sarannya lagi padaku.

“Ah, entahlah semoga saja aku bisa melupakannya.” tatap ku padanya serius.

Perbincangan kami pun berakhir ketika sebuah pengumuman mengisyaratkan bahwa kami diperbolehkan untuk pulang.

Keesokan harinya tak seperti biasanya, ketika aku hendak sarapan, Kirana sudah sampai di depan rumahku. Padahal biasanya akulah yang menjemputnya.

“Lupa ya sama hari ini?” tanya Kirana padaku.

“Nggak lah, hari ini kan hari senin, upacara bendera, pelajaran IPS, musik, sama bahasa Indonesia ” jawabku santai.

“Aduh, bukan itu…” teriaknya jengkel.

“Terus?” Tanyaku padanya.

“Hari ini kan hari pelepasan kakak kelas kita.” terangnya apadaku.

“Aduh sorry, lupa, hehe.”

“Ganti baju sana.” suruhnya padaku.

“Siap komandan, he.”

Kamipun berangkat setelah aku berganti baju. Setelah sampai di sekolah, aku melihat Azka duduk di bangku pojok. Yah, sesuai kelasmu, kelas XIIA, dia tampak berbeda hari ini, jauh lebih tampan dari sebelum-sebelumnya, dan tanpa ku sangka kau menengok ke arahku dan melempar senyum padaku. Tentu saja aku membalasnya dengan penuh suka cita.

Namun sayang, esok aku dan Azka berpisah, untung saja aku sudah mengetahui account faceboknya, jadi kita masih saling berhubungan. Berbagai kegiatan terlewati, begitu pula dengan penampilan Azka yang cukup mengejutkan, dia bernyanyi di atas panggung. Semua mata tertuju padanya, suaranya membuat setiap orang yang menatapnya terkesima. Acara pun usai, semua anak pulang satu persatu, begitu pula denganku.

Hari-hari selanjutnya tak setiap hari kau datang ke sekolah, dan sampai akhirnya kau benar-benar menghilang dari tatapan mataku.

Beberapa bulan kemudian aku menerima surat dari seseorang, saat ku buka, aku tak pernah menyangkanya, begini isinya     :

Assalamualaikum wr.wb,

Apa kabar Tania, apakah kau masih mengingatku? Aku adalah Azka, kakak kelasmu, oh iya, menurut beberapa sahabatku yang satu angkatan padamu, kau menyukai ku, apakah benar itu? Rasanya seperti mimpi, aku tak pernah menyangka kau menyukaiku, karena selama ini pun aku menyimpan rasa padamu, rasa itu tumbuh karena aku sering melihatmu tersenyum padaku dan selalu menungguku di toilet dekat kelasku, namun aku paham, mungkin rasa kita nampaknya harus kita jaga terlebih dahulu, karena aku akan pergi ke New York untuk medapakan beasiswaku, aku harap kau tetap akan mengingatku sampai aku kembali ke Indonesia beberapa tahun lagi.

Nampaknya itu saja yang perlu aku sampaikan, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, dan untuk sekarang mungkin kita akan menjadi sahabat, emm, 087839474908, itu nomerku untuk mempermudah hubungan kita.

Wassalamualaikum wr.wb.

Salam,

 

Muhammad Azka karisma

Jantungku serasa berheti ketika selesai membaca, namun dalam hati aku pun berkata “Sial, mengapa baru sekarang kau mengungkapkannya, mengapa tak dari dulu, tapi tak apalah, mungkin inilah suratan takdir kita untuk menjadi sahabat terlebih dahulu.”

“Woi!!” Karina mengagetkanku.

“ Look at this!!” Teriakku padanya.

“Apa?? Azka yang ngirim ini?”

“Iya,” jawabku bersemangat padanya.

“Waow, makin seneng aja nih”

“Tetep aja jengkel, kenapa baru sekarang sih dia kasih tahunya, gue kan sukanya dari dulu!!” keluhku padanya.

“Udahlah syukurin aja semuanya..”

Setelah kejadian surat fenomenal itu hari-hari ku menjadi lebih berwarna, meskipun masih ada penyesalan namun aku harus mensyukurinya, dan aku menuliskan puisi untukmu:

Untuk kau yang jauh disana

Muhammad Azka Karisma

Waktu mungkin bisa memisahkan kita

Namun apa mau di kata

Nampaknya hati kita berkata berbeda

Kau mengirimkan sepucuk surat berharga

Yang tak ternilai harganya

Kubaca surat itu setiap malam,

Dan aku pun selalu berdoa,

Semoga saja tenggelamnya matahari berganti sang rembulan

Takkan pernah, memisahkan persahabatan kita, sekarang dan selamanya

 

Selain itu aku selalu meyakinkan diriku, “Kalalulah Tuhan menggariskan kita bersama, pasti kita akan dipertemukan, entah sekarang, ataupun kelak mendatang.”

 

***0***

Leave a Reply

Kalender
March 2019
M T W T F S S
« Apr    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Categories
Archives