Oleh Fitri Fajarningrum (8A)

Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi. Dialah taman hati, yang kita taburi dengan kasih dan kita isi dengan penuh rasa terima kasih. Kerana kita menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa damai. Cinta dan sahabat memang dua hal yang tak mudah untuk dimengerti. Dua-duanya sangat berarti, tapi terkadang membuat luka yang perih.

Fina, merupakan sahabat baikku sejak kecil. Dia juga tetangga dekatku sekaligus teman sekelasku  kini yang duduk di kelas 8A, sehingga kami sangat akrab dan selalu bersama-sama. Fina, dikatakan dewasa, sungguh kekanak-kanakan, tapi dia sahabat yang baik, tulus, dan setia yang pernah kukenal. Kami selalu berbagi bersama dari hal yag sedih, lucu, aneh, bahkan hal yang tak penting pun kami bahas.

Senja yang dulu indah kini menjadi temaram. Seperti keadaan hatiku yang sedang meratapi kesedihan karena retaknya persahabatanku dengan Fina. Semua hal itu aku alami sejak waktu itu.

Waktu itu, ketika aku dan Fina di kantin, aku melihat seorang lelaki yang sangat ganteng. Ia kakak kelas sekaligus ketua OSIS di sekolahku. Namanya, Kak Rino. Dia itu baik, sopan, ramah, pinter, senyumnya manis banget lagi. Baru kali ini aku memuji lelaki. Rasanya aku suka sama kakak kelasku itu. Keramahannya yang senantiasa menyapa Bapak dan Ibu Guru serta semua teman yang ditemuinya dengan senyuman manis.

Ketika ada kesempatan untuk menjadi calon anggota OSIS, aku dan Fina mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi. Dan akhirnya kami diterima sebagai anggota OSIS. Aku sangat senang karena selain berorganisasi merupakan kegemaranku, aku juga bisa lebih akrab dengan Kak Rino. Namun, tak pernah kuduga ternyata Kak Rino menyukai Fina, sahabatku sendiri. Aku sangat sedih karena dia adalah cinta pertamaku, namun apa dayaku yang tak bisa berbuat apa-apa. Hingga suatu ketika, Kak Rino menyatakan cintanya pada Fina. Yang membuat aku kecewa, Fina menerimanya. Padahal dia sangat tau kalau aku suka sama Kak Rino. Kenapa Fina tega padaku? Mungkin ini nasibku, hingga semenjak saat itu hubungan persahabatan kami menjadi renggang.

Waktu terus berputar, hari bertambah hari kulalui dengan luka kesedihan ini. Lambat laun, perang dingin antara aku dan Fina tercium juga. Teman-temanku heran melihat aku yang tidak seperti biasanya. Mereka yang tau aku selalu bersama-sama dengan Fina. Namun sekarang sudah tidak lagi. Atau bahkan mereka sudah tau masalahku dengan Fina yang sebenarnya.

 

Saat pulang sekolah, Lulu menemuiku di ruang kelas.

“ Ren, ada masalah ya sama Fina ?” tanyanya sambil menarik kursi dan duduk disampingku. Mau tak mau aku harus jujur.
“ Iya, aku juga nggak tau kenapa bisa terjadi ?” jawabku.
“ Awalnya gimana sih kejadiannya ?” Lulu balik bertanya.

“Aku sangat merasa kecewa sama dia, Lu. Sebenarnya aku tidak pernah menginginkan hal ini terjadi, tapi Fina udah menghianatiku”

“Untuk apa kalian mengorbankan persahabatan kalian hanya demi seorang lelaki? Ingatlah Ren, persahabatan itu lebih peting dari apapun. Lagian, kalian kan sudah bersahabat sejak lama, masa’ Cuma gara-gara hal itu persahabatan kalian jadi renggang.”

Aku sempat merasa bersalah dengan renggangnya persahabatanku dengan Fina. Aku selalu bertanya-tanya dalam hati, “Apakah aku salah membenci Fina?” Mungkin ini juga salahku. Meskipun aku sangat mencintainya namun sahabatku lebih pantas dicintai daripada aku. Cinta itu mungkin tidak bisa dipaksakan, dan memang tidak harus memiliki. Aku semakin merasa bersalah dan berniat untuk meminta maaf pada Fina dan menjalin hubungan persahabatan kami seperti dulu lagi.
“Sebenarnya aku juga merasa bersalah kenapa harus persahabatan yang aku korbankan demi seorang laki-laki.”

“Nah, itu kamu tau sendiri. Sekarang lebih baik kamu minta maaf sama Fina, dan kembalilah menjadi Rena dan Fina yang dulu bersama. Jangan gengsi atau takut dicuekin.”

“Makasih ya, Lu.. Aku akan memperjuangkan persahabatanku dengan Fina.”

Semenjak itu, aku mulai menunjukkan senyuman pada Fina. Namun, Fina tak membalasnya. Dia seakan-akan tidak ingin memaafkan aku, bahkan seolah-olah tidak pernah kenal denganku. Namun, keadaan itu tidak membuatku menyerah untuk mendapatkan sahabat baikku lagi.

Ketika pulang sekolah, aku memanfaatkannya untuk meminta maaf pada Fina. Di depan pintu gerbang sekolah, aku mencoba memanggil-manggil Fina.

” Boleh bicara, Rha ?” Aku menghampirinya di perpustakaan. Dia cuek, tanpa menoleh sama sekali, matanya lekat tertuju pada buku yang sedang dia baca.

“ Fin ,, Fina..”. Namun, tidak ada sahutan darinya.

“Fin, kamu dengar suara aku kan ?” kali ini suaraku terdengar lebih sedih dicuekin seperti ini.
“ Mau ngomong apa ?” Itu suara Fina. Alhamdulillah akhirnya suara itu terdengar juga setelah sekian lama aku menantinya.
“ Kita tidak boleh seperti ini terus Fin, diam-diaman tanpa kenal dosa. Hatiku sedih Fin, kita sudah bersahabat sejak lama, sayangkan hanya masalah seperti ini kita bermusuhan. Aku akan melupakan Kak Rino kok Fin. Aku sudah merelakannya untukmu. Tapi aku tidak rela kalau persahabatan yang selama ini kita jaga, putus begitu saja.” Air mataku berjatuhan.
“ Terserah ….” Hanya itu jawaban darinya.
“ Terserah apanya, Fin ?”
“ Ya terserah, yang penting aku sudah memaafkanmu.” Sambil berlalu meninggalkanku.

Hancur perasaanku ini mendengar kata “Up to You” dari Fina. Seolah-olah, dia sudah tidak menganggapku sebagai sahabatnya. Namun, aku akan tetap menganggapnya sebagai sahabat terbaik yang pernah aku kenal.

 

Hari itu, Fina tidak berangkat sekolah. Menurut informasi dari teman-teman, Fina sedang sakit. Aku yang bertetangga dengannya pun bahkan tidak tau kalau Fina sedang sakit. Dan pulang sekolah aku berniat untuk menjenguk Fina di rumahnya. Beberapa teman sekelasku pun ikut ingin ikut menjenguk Fina di rumahnya. Sesampainya kami di rumah Fina, ternyata Fina tidak ada di rumah, kata saudara sepupunya Fina sedang dirawat di Rumah Sakit. Aku dan sejumlah teman pun bergegas pergi ke Rumah Sakit untuk menjenguk Fina.

Sesampainya di Rumah Sakit, disana terdapat ayah, ibu, serta kakak Fina yang sedang menunggunya. Kemudian aku langsung menanyakan keadaan Fina.

“Fin, kamu sakit apa? Kenapa kamu nggak bilang ke aku kalau kamu sedang dirawat di Rumah Sakit. Aku kan bisa nungguin kamu.”

“Kalian nggak usah repot-repot, aku nggak papa kok, aku baik-baik saja, aku hanya sakit biasa.”

Kami pun berbincang-bincang di Rumah Sakit sampai sore.

“Sudah sore, lebih baik kalian pulang saja teman-teman.. Kalian pasti kelelahan dari pulang sekolah langsung kesini.”

“Tapi kamu nggak kenapa-kenapa Fin,?”

“Aku nggak papa kok teman-teman, aku udah baikkan kalian nggak usah kawatir”

“Ya sudah, kami pulang dulu ya  Fin..”

 

Kami pun berpamitan pada ayah, ibu, dan kakak Fina. Lambaian tangan Fina yang seolah-olah memberikan arti lain, membuat hatiku serasa berbeda. Sepertinya aku merasa sedih meninggalkan Fina di Rumah Sakit. Aku pun pulang dengan perasaan sedihku ini.

 

Pagi ini, pagi yang sangat gelap, hujan turun begitu derasnya beserta angin yang cukup kencang. Pagi itu aku sedang duduk melamun tentang bagaimana keadaan Fina di Rumah Sakit. Tiba-tiba, Hpku berdering sehingga lamunanku hilang. Aku pun segera bergegas mengangkat telepon yang ternyata dari Fina.

“Hallo assalamu’alaikum, bisa bicara dengan Rena?” suara mama Fina dengan suara yang berat dan sepertinya sedang menangis.

“Wa’alaikumsalam. Iya tante, ada apa kok pagi-pagi begini telepon Rena? Oh ya, bagaimana keadaan Fina tante?” tanyaku dengan ragu-ragu.

“Fina.. Fina..”

“Fina kenapa tante?” tanyaku penasaran

“Fina telah berpulang, Nak.”

“Tante nggak serius kan? Nggak mungkin Fina meninggal kan tante? Kemarin Fina kan nggak kenapa-napa”

Belum sempat melanjutkan obrolan, tut.. tut.. tut… telepon terputus dengan tiba-tiba. Aku menangis dan masih penasaran dengan semua ini. Karena aku nggak dengar kalau Fina menderita suatu penyakit. Lalu, aku segera bergegas ke Rumah Sakit untuk memastikan kebenarannya. Dengan terburu-buru,aku langsung berangkat ke Rumah Sakit.

 

Sesampai di Rumah Sakit, aku langsung menuju kamar tempat Fina dirawat. Namun, Fina tidak ada di kamar tersebut. Kemudian aku langsung tanya pada suster yang lewat.

“Suster, teman saya yang dirawat di kamar ini ada dimana ?”

“Oh itu, orang yang tadi dirawat di kamar ini telah meninggal, mbak. Baru saja jasadnya dipulangkan.”Sambil menangis aku langsung menuju rumah Fina.

 

Sesampainya di rumah Fina, disana banyak orang yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Aku tidak kuasa menahan tangis air mata ini. Aku melihat Fina terbaring kaku, dengan disekelilingi orang-orang yang membacakan yasin.

“Tante, kenapa ini semua harus terjadi sama Fina? Sebenarnya ada apa sih tante? Fina sakit apa?” tanyaku sambil menangis.

“Sebenarnya dia menderita penyakit kanker, tapi dia nggak mau teman-temannya tau terutama kamu, Ren.”

“Sahabat macam apa aku ini? Aku tidak tau kalau sahabatku sendiri menderita penyakit kanker. Bahkan aku tidak ada disampingnya disaat-saat terakhirnya.”

“Kamu tidak perlu menyesalinya karena itu sudah kehendak Allah. Lebih baik kamu relakan kepergiannya, supaya dia tenang di alam sana.” Ucap mama Fina dengan nada sedih.

Mama Fina menyerahkan secarik kertas surat padaku, “Ren, ini dari Fina buat kamu. Dia menulis ini ketika kalian sedang bertengkar.”

“Makasih tante”

 

 

Kemudian, aku segera bergegas membaca surat itu.

 

To: Rena

Ren, sebelumnya aku minta maaf atas kejadian yang membuat hubungan persahabatan kita renggang. Ketika kamu membaca surat dariku ini pasti aku sudah tidak berada di dunia ini lagi. Sebenarnya aku sudah memaafkanmu, tapi aku pura-pura benci sama kamu supaya kamu nggak tau penyakitku. Aku nggak mau merepotkanmu, Ren. Dan bukan maksudku untuk merebut Kak Rino dari kamu, tapi aku juga sangat mencintainya, dan aku udah putus sama dia. Jika hanya derita dan kematian yang harus aku terima. Kamu tetap sahabat yang selalu mengisi hari-hariku. Seberapa besar kesalahanku, ku mohon maafkanlah aku. Selamat tinggal sahabat, ku mohon ikhlaskan kepergianku.  Karena kamu akan selalu menjadi sahabat sejatiku selamanya.

Fina

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sungguh hancur hati ini, setelah membaca surat dari Fina. Kini aku hanya bisa mendoakannya semoga dia diterima disisi Allah. Amin

Paginya aku langsung menuju makam Fina untuk melihat tempat peristirahatan sahabatku yang terakhir. Semakin aku mencoba tabah, semakin aku teringat akan masa-masa indah dulu ketika kami bersama-sama. Ketika pemakaman selesai, orang-orang pulang, aku tinggal sendirian di tempat itu. Aku masih belum bisa menahan tangis. Dan aku juga meninggalkan surat balasan untuk Fina, walaupun mungkin tidak akan pernah terbaca olehnya tapi itulah kenangan terakhir kami.

 

 

To: Fina

Fin, aku hanya sekedar membalas surat darimu. Kenangan-kenangan terindah kita takkan pernah aku lupakan. Aku belum sempat membahagiakanmu, namun kini kau tlah pergi jauh. Aku pengen menikmati persahabatan kita , namun Allah berkata lain. Kau kan selalu menjadi sahabat terbaikku. Semoga kamu diterima disisi Allah. Selamat jalan sahabat. Doaku menyertaimu.

 

Rena

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Meskipun kini Fina telah tiada, namun aku akan tetap mengenangnya sebagai sahabat sejatiku. Aku selalu mencoba menghapus kesedihan ini. Kini, aku hanya bisa berdoa untuk Fina, semoga dia bahagia di alam sana, dan aku berharap suatu saat nanti kami akan bertemu kembali. Amin

 

***0***

Leave a Reply

Kalender
September 2019
M T W T F S S
« Apr    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
Categories
Archives