Oleh Destya Lisnaningrum (8A)

 

            “Put, mau nggak kamu jadi paa…”

Omongan Dewa terputus saat bel masuk berbunyi. Sebenarnya aku juga sudah mengerti apa yang akan dia bicarakan. Tapi aku tidak mau menjawabnya sekarang. Walau sebenarnya, aku suka Dewa sudah sejak awal masuk SMP. Sayangnya, aku dan Dewa baru dekat beberapa hari belakangan ini. Meski begitu, aku sudah merasa cocok dengannya.

“Tapi apa harus se cepat ini dia katakan kalimat itu? Apa aku juga harus menjawabnya sekarang?”Tanyaku dalam hati.

Aku masih ingat awal kita dekat. Yap! Tanggal 4 Februari kemarin, kira-kira 6 hari yang lalu. Sebenarnya aku ingin menjawab ‘iya’ tapi aku masih ingin dengan Dewa sebatas teman atau sahabat. Lagian kami juga baru kelas Sembilan dan sebentar lagi kami akan mengikuti ujian nasional.

Selama jam pelajaran di mulai sampai bel istirahat berbunyi, aku masih memikirkan hal itu. Sampai-sampai Fika teman sebangku ku menegur beberapa kali karena lamunanku yang berlebihan.Ya jelas, karna inilah pertanyaan terberat yang harus kujawab. Padahal sesusah-susahnya soal matematika dan bahasa inggris saja,tak pernah sampai membuatku sebingung ini.Tapi kenapa pertanyaan yang satu itu bikin kacau otakku?

“Put, ke kantin yuk!” Ajak Fika sambil menggeret tanganku.

Aku hanya mengangguk sambil senyum terpaksa ke arah Fika sebagai jawaban iya. Di perjalanan menuju kantin, Fika ngomong dari A sampai Z danaku hanya menjawabnya dengan senyuman. Walau pun terkadang Fika jengkel dengan responku, tapi dia tetap meneruskan omongannya dengan panjang lebar. Memang Fika orangya cerewet, nggak bisa diem dan walaupun orang yang diajak ngomong tidak meresponnya,dia akan tetap melanjutkan omongan yaitu sampai dia ngerasa puas udah ngungkapin semua yang dia rasain.

“Fik, pesen apa?” tanyaku.

“Biasalah Put, masa nggak ngerti sih, temen sejak TK loh.”

“Iya deh tau, tapi siapa tau aja selera kamu berubah sejak deket sama gembul Doni haha.” Godaku.

Aku langsung memesan makanan di kantin sebelah selatan. Yang secara umum dinilai bahwa hanya kantin itulah yang makanannya lebih berasa dibandingin kantin lainnya. Nggak cuma itu aja, tapi ada satu faktor yang membuatku lebih suka di kantin selatan, yaitu ada Dewa.

Setelah selesai memesan makanan dan makanannya juga sudah tersaji, aku bergegas membawanya kemeja dimana aku dan Fika duduk. Tapi tiba-tiba, seseorang memanggilku.Hatiku berdegub seketika. Mendengar suaranya yang lembut, mukaku menjadi bersinar-sinar, melebihi bidadari jatuh dari surga. Aku berharap dia adalah Dewa.

“Put, Putri!”

Aku menengok ke arah suara itu. Saat aku melihat wajahnya, oh tidak! Ternyata salah, dia adalah Purnama temen Sdku dulu yang katanya nih,suka ma aku. Ganteng sih ganteng tapi aku tidak suka sifatnya yang kayak gitu. Egois, belagu. Selain itu dia juga kadang main tangan kalau sama cewek. Kebalik banget kalau sama Dewa.

Sesuai dengan namanya, Dewa juga seperti dewa. Ganteng, keren, pintar, jago basket, baik, pokoknya segalanya deh. Nggak salah orangtuanya memberi nama Dewa. Orangtuanya juga sangat beruntung pastinya, mempunyai anak semata wayang seperti Dewa. Karna Dewa sangat menyayangi orangtuanya, dia juga selalu menuruti apa yang orangtuanya katakan.

Tapi tak selang beberapa lama, seperti petir yang menggelegar di bumi. Memberikan sensasi kejutan yang membahana, Dewa benar-benar memanggilku. Dia memastikan jawabanku. Tapi aku belum siap menjawabnya sekarang.

“Put sebenernya tadi aku mau ngomong gini, mmm… mau gak kamu jadi pacarku? Gimana Put? Kalo nggak bisajuga nggak papa kok, pliss.” Tanyanya dengan muka melas.

“Wa, apaharussekarang?Ini begitu mengejutkan buat aku. AkusulitWa kalau kayak gini.” Jawabku dengan ragu-ragu.

Kami berdua hening. Tak ada jawaban dari Dewa dan tidak ada suara yang aku keluarkan. Kami berdua hanya saling pandang. Muka Dewa yang mela smembuatku merasa iba. Matanya yang sipit dan bibirnya yang tipis membuat mukanya semakin kusut saja.

“Hayoo, kenapa sih kalian? Udahlah put, trima aja napa?Kamu juga suka kan? Nggak usah lama-lama deh, trima dong.” Goda Fika yang memecahkan keheningan kami berdua.

“Wa, maafWaakunggakbisabilangsekarang, tapinantibakalanakujawabkokWa, tenangaja.”

Bel masuk berbunyi lagi. Uhh, lagi-lagi bel itu memutuskan pembicaraanku dan Dewa. Kami pun menuju kelas bersama-sama. Tapi sebelum masuk kelas, aku dan Fika ke toilet lebih dahulu, sedangkan Dewa masuk ke kelasnya yang berada pas di sebelah toilet.

Perasaanku bercampur aduk, kayak soup buah. Suka karena sama Dewa dan sedih karena nggak bias nemuin jawaban buat pertanyaannya tadi pagi. Padahal aku suka Dewa udah lama, tapi kenapa mulut dan hati nggak bias diajak kompromi. Hati bilang ‘iya’ tapi mulut nggak bias bicara. Bikin kacau pikiran saja ini.

Pelajaran terakhir saat ini adalah agama, akhirnya membuat hati dan mulut bersatu. Hati dan mulut akhirnya menjawab yang sama, yaitu ‘iya’. Tak ada rasa ragu lagi. Pulang sekolah aku langsung menarik Fika.

“Fik, temeninakuyuk!” Ajakkugembira.

“Kemana Put? CariDewa? Truskamujawabapa? Iyakan?”Tanyanyapanjanglebar.

“Ah ramenya kamu, iya aku jawab iya.”

Pulang sekolah aku langsung mencari Dewa ke kelasnya, tapi di kelasnya hanya tersisa dua pasangan yang sedang asik pacaran. Hati yang tadinya senang ini jadi kecewa karena kagak nemuin yang namanya Dewa.

Saat ingin menjawab tapi Dewa nggak ada, sedangkan tadi saat belum tau jawabannya Dewa ada. Nggak asyik banget sih waktunya. Kalau bisa memutar waktu, ingin deh rasanya memutar waktu, tapi sayangnya nggak bisa.

“Put bawa HPkan?” Tanya Fika.

“Bawa, emang napa Fik?”

“Kenapa nggak kamu SMS aja sih?”

“Oh iya, begonya aku.”

Saat itu juga aku langsung SMS Dewa.Tak berapa lama dia pun meneleponku. Tapi suaranya berbeda dan sepertinya itu bukan Dewa karena yang mengangkat adalah seorang cewek.

“Ya ampun, baru aja menjawab ‘iya’ tetapi dia sudah sama cewek lain?” tanyaku dalam hati.

Tapi tiba-tiba telepon terputus dan tak lama kemudian ada sms masuk darinya.

From                      : Dewaaa

Number                 : 087839945632

Dekputri, cepetan ke rumah sakit, Dewadek, cepetan kesini!

Hati ini menjadi cemas tak karuhan. Di otakku terfikir bahwa terjadi hal yang aneh menimpa Dewa tapi segera aku tepiskan fikiran yang aneh itu dan berharap semua baik-baik saja.

Segera kutarik tangan Fika dan cepat-cepat menuju rumah sakit tanpa menjelaskan kepadanya. Namun, di perjalanan Fika tak seperti biasanya. Dia menjadi diam melihat wajahku yang cemas seperti ini. Dasar orang ini juga benar-benar sangat aneh.

Selang beberapa waktu, sampai juga di rumah sakit. Segara aku dan Fika menuju ruangan Dewa. Dari kejauhan, terlihat raut keabu yang memenuhi wajah orang tua Dewa dan beberapa orang di sana. Di depan ruangan Dewa, tiba-tiba Citra berlari kearahku dan memelukku dengan erat sambil menangis. Dia adalah teman sekelas Dewa. Air mataku juga tak bias dibendung lagi karna kekhawatiran yang begitu miris dihatiku.Tanda tanya besar yang sebenarnya sesuatu hal sudah menimpa Dewa.Dan dengan pelan Citra membisikiku.

“Put, Dewa udah nggak ada.”

Air mataku jatuh semakin deras. Badanku juga menjadi lemas dan tidak kuat berdiri lagi jatuh di lantai rumah sakit. Citra yang badannya lebih kecil dariku tak bias menahan badanku. Ibu Dewa yang melihataku seperti itu, langsung mendekatiku dan memelukku.

Ya tuhan, salah apakah diriku. Bodohnya aku, harusnya aku tadi menjawab ‘iya’ untuk kebahagiaan terakhirnya. Kini benar-benar aku sudah terlambat. Dewa maafkan aku.

***

Semenjak kematian Dewa setahun lalu, aku tak pernah absen mengunjungi mkamnya setiap bulan. Di setiap kunjunganku itu, kukirimkan ia doa dan bunga. Namun, juga kuselipkan sebuah jawaban untuk penantiannya selama ini.

“Dewa aku beruntung, menjadi yang kau cinta hingga akhir umurmu. Dan aku juga bahagia bisa mencintaimu hingga detik ini.”

Semoga Dewa bisa membaca ceritaku ini diatas sana. Dan bila saatnya nanti kita  bertemu, dia akan menyambutku dengan senyuman. Kisah ini akan kujadikan sebuah kenangan dengan ukiran indah yang abadi. Salam damai Dewa. Selesai.

 

***0***

Leave a Reply

Kalender
November 2017
M T W T F S S
« Apr    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
Categories
Archives