Oleh : Zulfa Fitriani N. A [7G-2015]

            Aku melangkah menuju kantin. Aroma khas makanan kantin menusuk hidungku, membuat perut ini makin berbunyi nyaring. Aku berjalan ke arah antrean. Suasana kantin lumayan ramai. Mungkin ada empat sampai lima orang yang mengantri di depanku. Setelah mendapat makanan, aku mencari bangku kosong di pojok kantin, posisi favoritku.

Hei, perkenalkan, namaku Dava Iqbal Fathurrahman. Panjang memang. Tapi kalian cukup memanggilku Dava. Ingat, D-A-V-A. Ya, aku seorang remaja ibukota yang keren pastinya. Aku punya hobi bermain basket. Basketball is my life. Begitulah kira-kira. Aku duduk di kelas IX di Raktavire’s Junior High School. Disini, aku sangat nyaman. Gurunya kebanyakan keren-keren, mengajar tanpa terlihat menggurui. Teman pun asyik-asyik. Pembelajaran berlangsung dengan menarik. Beraneka ekstrakurikuler bisa dicoba disini. Tinggal pilih sesuai minat dan bakat. Ah, aku bersyukur sekali bisa belajar di sekolah ini.

“Hei, kau disini rupanya,” seseorang menepuk bahuku. Dialah Arletta, sahabatku yang paling baik. Dia sahabatterbaikku sedari dulu, sejak kami masih kecil. Bayangkan, aku dan dia lahir di tempat yang sama, dengan selisih waktu hanya dua menit! Mamaku dan mama Arletta memang bersahabat baik, macam aku dan dia. Kadang aku merasa dia seperti adik kembarku!

“Ada apa?” aku bertanya tanpa mengalihkan pandanganku dari semangkuk bakso yang sedang kusantap. Dia menggeleng kecil, lalu duduk di sampingku. “Kenapa kemarin absen lagi, Ar?” aku kembali bertanya. Arletta menatapku cukup lama.

“Yee.. Arletta. Ditanya malah melamun! Awas nanti kesambet lho,” aku menggerakkan sendokku di depan wajah Arletta. Sontak Arletta memundurkan wajahnya, kaget. “Eh, iya apa? Sory sory, aku lagi nge-blank nih..” ucapnya kemudian.

“Kemarin kenapa absen lagi?” ulangku. “Oh, itu.. anu. Aku.. aku ke rumah sa..  eh, maksudnya ke rumah tante. Iya, ke rumah Tante Ratna di Bandung,” jelas Arletta belepotan. Aku menaikkan alisku. “Tante kamu.. yang waktu liburan kita kesana itu?” aku menatap Arletta. “Yup. Yang waktu itu kamu tersesat di hutan sana, terus teriak-teriak nggak jelas seperti Tarzan, dan padahal aku ada di belakang kamu. Haha, ”Arletta mengingatkanku pada kejadian 2 tahun yang lalu saat kami berlibur di desa tantenya Arletta. Jadi ceritanya, dulu aku dan Arletta serta beberapa teman dari desa sana camping di hutan. Nah, waktu mencari kayu bakar, tanpa sengaja aku kehilangan jejak teman-teman gara-gara keasyikan lihat monyet gelantungan di pohon. Aku udah kebingungan gitu, mana hari hampir gelap pula. Eh, ternyata aku dikerjain! Teman-temanku memang sengaja membiarkan aku berjalan duluan, dan mereka mengikuti lambat-lambat dari belakang. Jujur, waktu itu aku pingin nangis! Setelah mendengar teriakan ‘panik’ dariku, baru deh teman-teman menyusul. Huaa.. aku malu banget kalau ingat itu.

“Yee.. malah ngejek lagi. Dasar gigi kelinci! Kemarin ada materi tambahan, tuh. Terus besok kamu ikut ulangan susulan Fisika. Materinya sudah ada semua di flashdisk-ku. Kamu bisa pinjam nanti,” terangku. Arletta tersenyum. “Ah, kamu memang baik Dav. Thank’s ya..” ucapnya. “Dava gitu loh,” candaku.

Waktu berputar dengan cepat. Bel tanda pulang baru saja berbunyi. “Coy, pulang yok?” ajak Reza dan beberapa orang kawanku. “Duluan aja. Aku masih menunggu Nyai-ku,” jawabku santai. Mereka tersenyum mengangguk, paham maksudku. Ya, menunggu ‘nyai-ku’, siapa lagi kalau bukan Arletta. Ah, mana pula bocah ini? Lama sekali.

“Dav, ayo pulang! Kamu ngapain disitu?” celoteh seseorang yang aku kenal sekali suaranya. “Nunggu kereta api lewat! Ya, nunggu kamu lah. Lama banget, sih?” sungutku. “Hehe, maaf. Aku tadi menghadap Bu Suci dulu,” terang Arletta. “Ngapain menghadap Bu Suci?” aku mengernyitkan dahi. “Ah, biasa, soal absenku,” jawab Arletta. Aku manggut-manggut. Akhir-akhir ini Arletta memang sering absen. Banyak sekali materi yang ia tinggalkan. Pantas saja kalau dia dipanggil BK. “Ya sudah, pulang sekarang, kan?” lanjutku. “Em, kamu mau nggak nganter aku ke toko buku dulu? Ada beberapa buku yang harus aku beli, nih. Buat ngejar materi.. dua bulan lagi kan tryout,” ucapnya. “Okee.. kamu bisa pinjam catatanku kok. Atau teman yang lain juga bisa. Aku yakin mereka mau bantu kamu,” kataku. Arletta hanya tersenyum. “Iyap, terimakasih ya.. berangkat yuk? Keburu sore nanti,” jawab Arletta. Kami pun berangkat menuju toko buku.

Tepat sampai di parkiran toko buku, hujan turun begitu deras. Seolah-olah, langit yang kian menghitamtak kuasamenahan butiran air yang membebaninya. Untunglah, aku dan Arletta sudah sampai di toko buku. Kalau tidak, wahh.. bisa gawat. Habis, aku nggak bawa mantel, sih.

Menunggu. Itu sebuah kata menyebalkan yang saat ini kualami. Ya, menunggu Arletta memilih buku. Gila, lama nian dia memilih buku. Entah sudah berapa kali dia memutari rak bagian Buku Pendidikan. Ah, kenapa nggak langsung jebret dipilih, bayar ke kasir, terus selesai kan? Kenapa harus pakai acara muter-muter dulu? Dasar perempuan, ribetnya minta ampun!

Satu jam berlalu. Arletta belum juga selesai memilih buku. Aku yang terkantuk-kantuk di pojok ruangan pun mulai sebal menantinya. “Ar, sudah belum, sih?” tanyaku. Dia tersenyum. “Ee.. sebentar ya, 10 menit lagi.. tinggal dikit kok, hehe,” Arletta nyengir menatapku dengan wajah tanpa dosa. Ampun, deh!

Akhirnya, setelah satu jam lebih Arletta selesai juga. Sepulang dari toko buku, aku mengajak Arletta makan di sebuah rumah makan di taman kota. Menu favorit kami, biasa.. soto dan jeruk panas.

“Habis hujan gini enaknya makan yang hangat-hangat ya, Dav?” celetuk Arletta. Tangannya menyentuh butiran air sisa hujan tadi siang yang menempel di dedaunan taman. “Ah, aku ingin seperti hujan, yang selalu membawa rasa tenang tiap hadirnya. Dan ia juga akan selalu meninggalkan kesegaran setelah pergi. Kadang, perginya juga disertai keindahan pelangi. Pelangi yang begitu indah. Siapa sih yang nggak suka pelangi? Semua orang pasti suka,” ucap Arletta tiba-tiba. Matanya sendu, menatap hamparan bunga di taman. “Ahh..” Arletta mendesis pelan. Tangannya memegangi dada, seperti sedang menahan sakit. “Kau baik-baik saja?” tanyaku. Dia mengangguk. “Aku cuma bercanda kok,” ucapnya sembari tetap memegangi dada. “Halahh… kukira sungguhan,” rutukku. Dia tersenyum simpul.

“Permisi, ini pesanannya,” seorang pelayan menghidangkan pesanan kami. “Oh, terimakasih..” jawabku. “Udah jangan mengkhayal terus. Nih, dimakan!” sambungku. Arletta hanya tersenyum. “Em, final basketnya kapan, Dav?” tanya Arletta. Ya, aku memang sedang berjuang bersama tim basket sekolahku untuk memegang kembali juara bertahan. “Lusa. Kamu nonton nggak?”. “Pasti lah! Aku suporter utamamu pokoknya. Nanti aku akan bawa spanduk besar bertuliskan “SEMANGAT DAVA”, gitu. Biar kamu jadi semangat mainnya terus sekolah kita menang, deh! Awas lho kalau nggak menang..” jawab Arletta. Matanya melotot, berlagak mengancamku. Ah, dasar gigi kelinci.

Oh, iya. Mungkin kalian bingung kenapa aku sering memanggil Arletta dengan sebutan ‘gigi kelinci’. Itu panggilan sayangku untuk Arletta. Soalnya, gigi Arletta memang kecil-kecil, macam gigi kelinci. Matanya bening, pandangannya hangat. Rambutnya panjang terurai, kadang juga dikucir. Ah, dia memang cantik. Banyak teman lelakiku yang nge-fans padanya. Tapi itu tidak berlaku untukku. Kami sudah lama dekat. Sudah lama bersahabat. Sejak lahir malah. Jadi, ya udah nggak bisa dibedakan antara rasa yang biasa atau di luar biasanya.

Seusai mengantar Arletta ke rumah, aku bergegas pulang. Setumpuk tugas sudah menungguku. Aku menengok schedule-ku yang tertempel di dinding kamar. Besok tanggal…  19 Desember. Tampak deretan tugas tertempel di tanggal itu. Wuiihh.. lembur nih. Aku putuskan untuk mandi, menyegarkan badan kembali. Kemudian aku berkutat dengan setumpuk tugas yang.. Ya Tuhan.. pening kepala ini dibuatnya.

Pagi menyapa. Sorot lembut mentari pagi memasuki kamarku. Alarm di sampingku berbunyi nyaring. Mataku merem melek, malas bangun. Kenapa sudah pagi lagi, sih? Cepat sekali. Aku kan masih ngantuk.

Dengan posisi masih tengkurap setengah sadar, tanganku meraba-raba meja di samping tempat tidurku untuk mematikan jam beker. PYARR….!!!!

Tanpa sengaja aku menyenggol sebuah figura kecil yang bersebelahan dengan jam beker. Sontak aku langsung bangun. Figura itu pecah. Dan, astaga! Ini kan fotoku bersama Arletta ketika bayi dulu? Duh, kok bisa jatuh, sih? Aku pun memunguti pecahan kaca yang berserakan di lantai.

“Aw,” aku mendesis kecil. Darah mengucur dari jari telunjukku. Jariku tertusuk pecahan kaca. Dasar Dava! Selalu ceroboh. Aku pun mengambil kotak P3K di laci meja dan mengobati lukaku.

Karena insiden tadi pagi, aku agak siang sampai sekolah. Disana tampak teman-temanku sudah berkerumun di kelas. Cas cis cus. Memperbincangkan segala hal yang entah kenapa diperbincangkan. Hal-hal yang konyol. Mulai dari model jam tangan terbaru, keluhan tugas yang menumpuk, hingga entah kenapa bisa sampai cerita Mpok Nori. Aku yang sedang malas, hanya menjadi pendengar tekun di belakang.

Arletta yang duduk semeja denganku masih bertahan dengan buku tulisnya. Biasa, dia lupa mengerjakan PR untuk jam pertama. Padahal jam pertama Matematika pula. Tapi heran juga aku, meski dia sudah ditawari beberapa teman untuk mencontek, Arletta bersikeras menolak. Dan hebatnya lagi, dia selalu bisa mengerjakan semua soal yang diberikan, meski dalam keadaan tergesa-gesa. Dan yang lebih hebatnya lagi, jawabannya pasti benar. Elok sangat dia.

Aku sengaja tidak memperlihatkan jariku yang sedang sakit. Nanti kalau Arletta tahu figura itu pecah, wah, bisa barabe. Figura yang aku pecahkan itu dari Arletta. Dan foto di dalamnya merupakan foto yang paling kami sukai. Ah, aku memang ceroboh.

Jam terakhir pelajaran, terasa membosankan. Waktu seperti malas berputar. Mataku sebal menatap Ms.Ariana, guru setengah tua yang (maaf) killerdan selalu berteriak jika berbicara. Yang jika ada jam pelajarannya, itu berarti harus menghadapi hujan ludah. Terutama bagi yang duduk di depan. Yup! Guru kita ini jika berbicara pasti ludahnya terbang kemana-mana. Bisa dibayangkan betapa anunyakeadaan kami kala beliau mengajar. Untung saja hari ini aku duduk di tempat strategis, pojok kiri belakang. Aman pokoknya. Tapi, mau tak mau ya itu guru kita. Ah, aku sungguh amat sangat berharap bel pulang segera berbunyi. Ingin rasanya aku kabur dari tempat ini.

Sepulang sekolah, aku bergegas menuju lapangan basket. Sekarang hari Jum’at, latihan terakhir sebelum pertandingan final.

Dari kejauhan, tampak Arletta berlari ke arahku. “Dav, bisa mengantarku pulang sebentar?” tanyanya kemudian. “Duh, maaf Ar. Aku bukannya nggak mau, tapi sekarang ada latihan buat pertandingan besok. Coba kamu minta tolong teman yang lain,” tolakku pelan. “Oh, kamu latihan, ya? Maaf, aku nggak tahu. Yaudah deh, aku coba minta teman yang lain,” jawab Arletta. “Kamu yang semangat, ya, Dav latihannya. Berikan yang terbaik! I’ll be there for you!” ucapnya sambil menepuk pundakku, lalu berbalik dan pergi. Sepintas wajah Arletta sedikit berbeda. Pandangannya tadi agak sayu. Wajahnya juga pucat. Ah, tapi bagaimana, ya? Aku juga sibuk. Ah, entahlah.

Akhirnya event yang kami nantikan tiba. Ya, hari ini adalah final RBC, Raktavire’s Basket Competition, sebuah ajang bergengsi yang selalu dinantikan para remaja tingkat SMPdi kotaku. Ajang ini diselenggarakan setiap 1 tahun sekali oleh pemerintah kota Raktavire. Dan syukurlah, sekolahku selalu menduduki peringkat pertama. Semoga, gelar “juara bertahan” tahun ini tetap menjadi milik sekolahku. Dan kebetulan pula tahun ini sekolahku yang menjadi tuan rumah.

Para suporter tampak berjejal memenuhi kursi penonton. Sorak sorai terdengar menggema, saling mendukung tim sekolah masing-masing. Dalam final ini sekolahku betemu dengan Soldhev’s Junior High School. Sekolah yang terkenal pula dengan ketangguhan tim basketnya. Hampir setiap tahun kami bertemu dalam final. Bismillah, semoga membawa hasil maksimal.

Babak pertama telah selesai, dan syukurlah sekolahku lebih unggul. Aku memanfaatkan waktu break untuk menyiram tenggorokanku yang sudah tandus. Em, Arletta mana ya? Biasanya saat begini dia akan datang, membawakanku paling tidak sebotol air mineral. Tapi sekarang dia dimana? Dari sekian banyak suporter sekolahku, tak kutemukan batang hidungnya. Katanya suporter utamaku, sekarang buktinya?

Waktu berputar cepat. Tak terasa, pertandingan basket telah usai dan dimenangkan oleh sekolahku. Yeah, akhirnya. Tapi, herannya, aku tak merasa senang sedikitpun. Perasaanku biasa saja, hambar.  Ah, aku kenapa, sih? Harusnya kan aku senang.

Lapangan sudah sepi. Aku berjalan lesu menuju pinggir lapangan untuk mengambil bola basketku yang tadi kubawa untuk latihan sebelum pertandingan. Aku memang sering membawa bola basket ke sekolah.

Guys, sudah mau pulang, nih?” tanya seseorang dari belakangku. Kevin. Kapten tim basket sekolahku. Aku mengangguk. “Iya, nih. Aku agak nggak enak badan,” jawabku kemudian. “Yahh.. gimana sih? Kok malah sakit? Berarti kamu nggak ikut makan-makan dong?” Kevin menatapku. “Aku titip muka saja lah. Salam aja nanti sama teman-teman. Yaudah, aku duluan, ya..” ucapku sambil berlalu. “Yup! GWS ya, Dav..” jawab Kevin. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.

Di rumah, mama  menyambutku dengan hangat. “Gimana sayang pertandingannya?” tanya mama lembut, sembari mengambilkan air putih untukku. “Menang, Ma.” Jawabku singkat. “Wah, selamat ya. Mama diajak makan-makan gak nih?” tanya mama sambil mengangkat alis kanannya, mengajakku bercanda. “Siip.. nanti mama mau minta apa aja, akan Dava kasih. Tapi… “ aku berhenti sejenak. “Tapi apa?” tanya mama. “Tapi nanti papa yang bayar! Hahaha.. “ jawabku sekenanya. “Hmm, dasar!” mama merengut, pura-pura marah.

Seusai makan siang, aku tiduran di sofa. Aku menatap sebuah kotak musik merah, hadiah dari Arletta saat aku ulang tahun.

Jika kamu merindukanku, tataplah kotak musik ini. Dengarkan lembut suaranya, pejamkan matamu. Dan bayangkan ada aku di depanmu. Jangan pernah merasa sendiri. Aku nggak akan pernah pergi, karena aku akan selalu disini,

Masih terngiang kata-kata lembut Arletta saat dia memberiku kotak musik ini. Senyumnya, ketika dia mengatakan aku akan selalu ada disini, sambil menunjuk dadaku. Ah, sekarang Arletta dimana, ya? Aku coba hubungi nomor telponnya juga nggak aktif. Hm, kamu dimana gigi kelinci?

PRAAKK…

Aku melamun! Dan tanpa sengaja kota musik itu lepas dari genggamanku. Ya Tuhan, kotak musik itu patah! Aduh, kalau Arletta tahu bisa gawat, nih. Bisa-bisa aku dimarahi habis-habisan. Ah, aku ceroboh banget, sih…bagaimana ini? Aku mencoba menyambungkan kembali bagian yang patah menggunakan lem. Ya, memang  bisa sih. Tapi, tetap saja masih terlihat bekas patahan itu. Aduh, bagaimana sih aku?

Langit senja mengoranye indah. Kepakan sayap burung walet terlihat menghias kota. Sore itu, perasaanku terasa tidak enak. Entah kenapa, aku jadi kepikiran dengan Arletta. Sejak tadi handphonenya aku hubungi tidak aktif. Entah sudah berapa kali aku bolak-balik dari kamar, ke ruang keluarga, lalu ke kolam renang, ke taman, dan kembali lagi ke kamar. Pikiranku kacau. Ah, ada apa gerangan? Mama dan papa yang sedang duduk santai di beranda depan heran menatapku.

“Kamu kenapa, Dav? Dari tadi mondar-mandir nggak jelas? Duduk gitu lho,” papa menegurku. Aku hanya tersenyum. “Nggak kenapa-kenapa kok. Bosen aja di rumah terus,”  jawabku singkat sembari mendekati mama dan papa. “Gimana, nih, katanya jagoan papa menang?” papa menggodaku. Aku hanya tersipu. “Pajaknya dong…” tambah mama. “Ciee.. tukang pajak lagi nagih..” aku membalas candaan orang tuaku. “Oke, deh, pajaknya papa yang bayar,” jawab papa. “Tuh, kan, Ma. Papa mau bayarin…” timpalku sambil melirik mama. Mama tersenyum. “Ya sudah, makan-makan di luar, yuk?” ajak mama. “Siipp.. kebetulan perutku juga sudah konser, nih,” jawabku. “Tapi.. ini papa beneran kan yang bayar?” aku memastikan sambil melirik papa.Papa tersenyum. “Sudah, tenang saja. Mumpung lagi awal bulan. Yuk, keburu Maghrib nanti,” ajak papa. Aku dan kedua orang tuaku akhirnya pergi ke sebuah kafe untuk makan-makan.

Matahari telah kembali ke peraduannya dan muncul lagi menyinari dunia. Hari ini hari Minggu. Seusai sarapan pagi, aku duduk bersandar di tempat tidurku. Aku mengedarkan pandanganku keluar kamar. Matahari terbit dari ufuk timur, selalu begitu. Hangat sinarnya menyelusup lewat jendela, menghangatkan tubuhku. Setiap pagi juga begitu, tak pernah berubah. Bulir embun yang memantulkan cahaya matahari, tetap saja di atas daun, untuk kemudian turun menetes dan menghilang. Membosankan. Aku mengambil gitar di pojok kamar dan ‘bergenjreng’ ria menikmati pagi ini. Sebuah lagu kudendangkan, melepas keresahan di hatiku.

Aku melihat sejenak keadaan kamarku. Hufftt.. macam kapal pecah. Akhirnya kuputuskan untuk berhenti bermain gitar dan merapikan kamarku. Hehh.. kalau mama tahu kamarku seperti ini, pasti dia mengomel. Ya, walaupun aku tahu omelannya karena sayang sama aku. Tapi lebih baik aku rapikan daripada mendengar omelan mama. Lagipula, mengundang omelan itu juga dosa, kan? Apalagi mengundang omelan seorang ibu.

Tok, tok..

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. Ah, siapa juga sih? Mengganggu saja. Mau tak mau aku yang sudah siap sedia untuk beres-beres harus meninggalkan pekerjaanku dan membuka pintu.

Mama dan papa.

“Ada apa, Ma, Pa?” tanyaku. Mama dan papa menatap wajahku, sendu. Mata mama berkaca-kaca, seperti seseorang yang sedang berduka.  “Hei, ini ada apa, sih?” tanyaku heran. “Mama kenapa menangis?” tambahku.

Papa menarik nafas panjang. “Kamu yang sabar, ya, Nak,” ucap papa sembari mengelus kepalaku. “Sabar? Sabar kenapa? Aku nggak paham, Pa, ’’ keningku berkerut.

“Ar, Arletta, Dav.. Arletta…” kata-kata mama tersendat. “Arletta? Arletta kenapa, Ma?” tanyaku. Aku menatap mata mama. Jantungku berdegup kencang kala nama Arletta disebut di situasi seperti ini. Mama hanya terdiam, air matanya menetes makin deras. “Ma.. Arletta kenapa?” aku semakin kebingungan. “Pa?” aku berganti menatap papa, mengharap jawaban darinya.

“Arletta.. Dia sudah kembali, Nak..” jawab papa. “Kembali darimana? Memang Arletta pergi kemana, Pa?” aku benar-benar bingung. “Arletta.. pergi sayang..” mama berusaha menjelaskan. “Dia.. dia sudah pergi.. kembali ke Yang Kuasa..” jawab mama.

Deg!

Badanku langsung lunglai. Entah perasaan apa yang ada di hatiku saat itu. Aku tak bisa mendefinisikan. Berjuta perasaan ambyur jadi satu. Antara kaget, sedih, takut, tak percaya, dan rasa-rasa lain yang entah apa namanya.

“Nggak, nggak! Papa sama mama pasti bohong! Iya, kan? Papa dan mama bercanda, kan?” aku mengguncang tubuh mereka, mencari kepastian. “Papa nggak bohong, Dav. Beneran. Beberapa menit yang lalu mama Arletta menelpon ke rumah, memberi kabar duka itu. Kamu harus sabar sayang. Kamu harus belajar kehilangan,” nasehat papa. “Tapi.. tapi ini konyol banget, Pa. Sudahlah jangan bercanda. Nggak lucu, Pa. Bagaimana mungkin Arletta yang selalu ada buat aku, selalu menemani hari-hariku, pergi begitu saja? Dua hari yang lalu kami masih bersama. Arletta masih bisa bercanda, tertawa. Dan sekarang? Nggak mungkin, Pa.. Ini terlalu nggak mungkin..” aku masih berusaha untuk mendengar kalimat “Iya, papa dan mama hanya bercanda,”.

Tapi, harapanku ya hanya sekedar harapan. Semua sudah menjadi kehendak Tuhan. Arletta memang benar-benar pergi. Ya Tuhan, pergi dan kehilanganadalah dua kata yang sama sekali tidak pernah ingin aku alami. Dua kata yang tidak ingin aku dengar. Dan, sekarang aku mengalami dua kata itu. Kata yang terlalu menyakitkan menurutku. Dan, ternyata.. selama ini Arletta berjuang melawan kanker paru-paru yang menggerogotinya. Dia dapat bertahan lebih dari 7 tahun melawan kankernya. Jauh dari perkiraan dokter yang menangani Arletta. Semangat untuk sembuh, itulah yang membuatnya bertahan lebih lama. Aku merasa jahat sekali selama ini tidak tahu keadaan Arletta yang sebenarnya. Arletta memang menyimpan rapi ini semua dariku. Dia tak ingin membuat aku khawatir.

Tapi, biarlah, Desember ini menjadi Desember terakhirku bersama Arletta. Manusia hanya bisa berharap, mencita, tapi Tuhan sesungguhnya merencana dengan cinta. Aku yakin, dibalik semua ini, pasti akan ada hal yang jauh lebih indah. Biarlah, Arletta pergi. Itu akan lebih baik, daripada dia tetap disini dengan rasa sakit yang memeluknya. Aku harus belajar mengikhlaskan. Walau itu sangat sulit bagiku.

Ar, semua memori tentang kita akan selalu ada disini, di hatiku, meski engkau sudah pergi jauh. Engkau juga akan selau disini, di hatiku, seperti kata-katamu dulu. Semua kenangan akan selalu aku simpan rapi. Meski engkau pergi, kau akan tetap ada di kehidupanku, di kehidupan hatiku. Karena sesungguhnya cinta dan kasih sayang itu kekal abadi. Dan inilah hidup, ada datang dan ada pula pergi. Hidup mati. Suka duka. Semua sudah berdampingan. Mungkin memang lebih baik engkau pergi. Sebab, jika kau disini, itu sama saja akan menyiksa dirimu. Maafkan aku yang sama sekali tidak tahu-menahu dan tidak pula berusaha mencari tahu tentang keadaanmu. Aku sayang kamu kawan.

Arletta, baik-baik, ya disana!

 

Wonosari, Desember 2014

Bismillah,

Leave a Reply

Kalender
November 2017
M T W T F S S
« Apr    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
Categories
Archives