Karya: Tanti Kurniasari (9D)

Tubuhnya kecil, tua dan renta, dengan kedua kakinya yang hampir membentuk huruf “O”. Saat berjalan tampak terseok-seok tak berdaya. Alisnya tebal, rambutnya putih merata. Pendengaran kata katanyapun tak sebaik dulu. Karena itulah Dia jarang bercakap-cakap dengan orang-orang. Namun nyalinya cukup tinggi karena pekerjaannya yang menjaga pemakaman desa.

Untung namanya. Namun jalan hidupnya tak seperti makna yang tersirat dalam namanya, “UNTUNG”. Sisa hidupnya ia habiskan dengan berdiam di tempat peristirahatan terakhir, menjaga tempat mereka yang telah tiada, sambil menanti kepingan-kepingan logam. Entah apa yang mampu membuatnya bertahan disana. Mungkin karena hidupnya bergantung pada koin-koin yang ia dapatkan dari para pengunjung pemakaman.

Malam itu rembulan terlihat samar-samar. Aku terbawa dalam lamunan tinggiku. “Mbah Untung, mungkin dia memang bukanlah keluarga kandungku, namun dia menjadi ayahku, ibuku, dan kakakku kini. Dia yang telah menjagaku setelah kepergian keluargaku 4 tahun lalu.” Terus ku berkhayal dibawah sinar rembulan yang terang.

“Nak, lihat apa kamu di luar sana?”suara parau Mbah Untung memecah keheningan.

“Lihat padang bulan mbah.” Jawabku dari luar.

Mbah Untung menghampiriku, kemudian duduk didekatku. Betapa

nyamannya berada didekat orang yang sangat berarti untukku, dibawah naunan sang rembulan. Hingga waktu berlalu begitu saja dan saat sinar sang bulan mulai tertutup awan-awan hitam aku dan Mbah Untung masuk ke dalam.

Keesokan harinya saat aku terbangun mbah Untung sudah tidak ada  dirumah. Hari itu hari Kamis pantas saja, karena banyak orang-orang yang berdatangan ke pemakaman untuk mendoakan keluarga mereka yang telah tiada. Kebiasaan semacam itu bagi orang Jawa sering disebut “nyekar”.

Aku hanya menanti kehadiran mbah Untung di dalam rumah sambil melakukan kegiatan seperti biasa. Terdengar dari kejauhan suara motor melintas didepan rumah. Pikiranku membelok, “Aku ingin bisa seperti mereka, memiliki motor dan bisa bermain dengan teman-teman sebayaku. Kini aku berumur 17 tahun tapi aku tidak seperti mereka. Mereka sekolah, bergaul, punya kebebasan, sedangkan aku???” sejak saat itu anganku membutakan akal sehatku. Semua kutuntut dari mbah Untung. Sekolahku, kebebasanku, temanku.

Setelah mbah Untung pulang aku langsung menanyakan hak-hak ku itu.

“Mbah aku sudah besar, tapi kenapa sampai saat ini mbah tak juga menyekolahkan aku dan mungkin aku tak bisa sekolah lagi karena umurku ? Atau membelikan aku barang-barang yang ku butuhkan?”

“Nak, kamu itu kenapa, tak biasanya kau seperti itu. Kamu harus sadar kita ini siapa. Gimana hidup kita, kita bisa makan saja dari belas kasihan orang lain!” jawab mbah Untung.

“ Tapi aku mau lebih, Mbah !” bentakku

“Bersabarlah nak!” hanya kata itu yang dikeluarkan mbah Untung.

Bayangan-bayangan permintaanku yang tak kunjung dicukupi selalu saja  menghantui. Setiap ku melangkah bayangan itu mengikutiku melangkah. Saat ku mundur kembali, bayangan itu juga mengikutiku kebelakang. Aku semakin gila karenanya. Hidupku bagai mimpi yang tiada berujung yang selalu diikuti hal yang sangat mencekam, menututiku, menghantuiku.

Selalu kutuntut hak-ku yang belum kudapat. Walau ku tak tahu mengapa ku tuntut itu, dan kapan tuntutanku itu kan terpenuhi.

Aku telah terlanjur kesal, akupun mendiamkan mbah hingga berhari-hari. Namun mbah tak sekalipun mencoba mendekatiku, mungkin pikirnya aku butuh waktu untuk sendiri. Tapi bukan itu yang aku mau. Aku semakin kesal dan akhirnya keputusan yang salahpun kujalani.

Saat malam telah larut, dan mbah telah tertidur lelap aku beranjak dari tempat tidurku. Ku berjalan kebelakang rumah, kuambil kursi dan kukaitkan seutas tali di langit-langit rumah. Kemudian ku naiki kursi itu, ku ambil seutas tali dan ku eratkan di leherku. Dan untuk detik terakhir ini, yang tersirat dalam pikirku “Mengapa mbah tak bisa mengerti keinginanku”. Perlahan kujauhkan kursi dari bawahku. Pikiranku melayang ke alam yang berbeda. Suatu tempat yang belum pernah ku singgahi. “Ini alam ku kini” kataku dalam hati. Ku kira aku telah jauh dari alam dunia tapi ternyata aku masih bisa menghirup udara kebodohan seperti di dunia, dan melihat pulasnya mbah yang sedang tidur dari sela-sela ventilasi. “Ternyata aku masih hidup” lanjutku. Sosok mbah menyadarkan aku, tak ada gunanya ku mengakhiri hidupku, karena nanti aku juga kan berakhir walau bukan kini. Tali itupun ku renggangkan lalu kukeluarkan kepalaku. Ku turun dan berjalan mendekati mbah. Kuraba tangan mbah keatas, pipi, dan dahi. Semua terasa dingin bagai bekuan es di bawah 0 derajad. Aku merinding, bulu kuduk-ku berdiri serasa ku tak sadarkan diri. Aku terlelap disamping mbah. Saat pagi menjelang kubuka mataku, ku terkaged mengapa mbah belum juga bangun. Kuraba kembali tangan mbah, semua terasa lebih dingin dari sebelumnya, ku bisikkan kata-kata didekat telinga mbah namun mbah seolah tak menghiraukan itu. Ku pegang kembali tangan mbah kurasakan detak nadinya namun tak terasa apa-apa. Kemudian ku dekatkan telingaku kedada mbah, ku dengarkan detak jantungnya, namun tak terdengar. “Mbah telah pergi meninggalkanku” pikirku dalam hati. Kuratapi kepergian mbah Untung dengan tangisku yang tiada arti.

Leave a Reply

Kalender
October 2019
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Categories
Archives