Oleh Byanka Inas Saraswati (8A)


Matahari mulai menampakkan wajahnya di ufuk timur. Sinarnya menerobos masuk lewat celah jendela. Dinginnya embun pagi terasa menusuk tulang. Suara-suara binatang malam masih terdengar sayup-sayup. Air dari atap rumah masih menetes. Genangan air disana-sini masih terlihat. Bekas hujan tadi malam yang belum reda. Sebidang tanah yang tak luas, disana-sini tumbuh rerumputan, rumah yang tak terlalu besar berdiri di atasnya. Dikelilingi rumah-rumah tetangga  yang jauh lebih besar darinya.

Namanya Emylawati Faizah. Dirumah neneknya, dia biasa di panggil Izah, karena itulah panggilan kesayangan keluarganya yang diberikan untuk dirinya, tetapi kalau di  Sekolah dia biasa di panggil Emyl. Dia sekarang duduk dibangku kelas tigaf SMP 1 Rejosari. Sebenarnya, dia lahir di Bogor, tetapi karena dia tidak ingin tinggal disana karena tidak mempunyai teman akhirnya dia tinggal bersama nenek, paman, bulik, dan dua orang adik sepupunya di  Rejosari, Semin, Gunungkidul. Ayahnya sudah meninggal dunia sejak ia masih berumur tiga tahun karena penyakit yang dideritanya. Ibunya mencari nafkah dengan bekerja menjadi pegawai pabrik di Bogor. Ia anak kedua dari dua bersaudara, tetapi sayangnya kakak lelaki satu-satunya yang ia cintai itu, meninggal dunia karena kecelakaan tragis yang menimpanya. Kini, ia pasrah dengan kehidupnya yang sangat sederhana. Tetapi, ia bersyukur atas apapun yang di anugerahkan oleh Allah kepada dirinya. Karena berkat Allah, dia masih bisa hidup dengan keluarga dan sanak saudaranya. Read the rest of this entry »

Oleh Bilfach Rachma Nur Effendi (8A)

 

“Ayah, aku berjanji…!” kalimatku terhenti.

“Aku akan mencari tau semua yang terjadi padamu, Yah!”

“Aku janji,” kataku terisak.

Saat itu, keadaan rumah begitu ramai dengan kedatangan para tetangga yang sedang membaca surat Yasin. Bendera berwarna putih berkibar di depan rumahku. Sesaat setelah pemakaman Ayah dilaksanakan, keadaan rumah menjadi begitu hening, tiada suara…Entah suara tangis atau lainnya, kali ini benar-benar hening.

Sepeninggal Ayah, aku lebih sering tidak masuk sekolah. Bersamaan dengan itu pikiran-pikiran mengejar untuk mengetahui mengapa Ayah  meninggal dalam keadaan yang mengenaskan terus menggangguku. Aku mulai berani membolos, hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya, karena aku termasuk anak yang disiplin di sekolah. Read the rest of this entry »

Oleh Anastasia SM (8A)

Nama lengkapku Namanda Valentin Subrata. Aku biasa dipanggil Nam. Sekarang aku duduk dibangku SMP  kelas satu di daerah Yogyakarta. Aku dikenal sebagai sosok yang dingin, sensitive namun cukup asyik, low-profile dan ssssst sedikit tomboy tapi juga culun! Penasaran kan?  Dan pada kenyatannya, saat cinta itu datang, semua berubah menjadi lebih baik.

Sabtu sore yang ia janjikan  untuk bertemu denganku terasa lamban berjalan. Padahal, setiap hari waktu berjalan 24 jam. Tidak lebih dan tidak kurang. Mungkin karena hawa penasaranku yang ingin tahu sebenarnya seperti apa sih dia Si penggemar rahasia itu sehingga waktu terasa berjalan lebih panjang. Read the rest of this entry »

 Oleh Alifia Intan Laksmi (8A)

Semilir lembut angin musim dingin sangat terasa. Lambaian nyiur seolah-olah mengajakku untuk bersendau gurau. Deburan ombak tajam terhempas terdengar  ditelingaku. Tapi perhatianku tak terusik. Aku larut dalam alam khayal.

Perlahan kesadaranku mulai muncul. Aku sedikit bingung, sebenarnya apa yang sedang kupikirkan. Cinta, sahabat-sahabatku, atau kah keluargaku? Yang pasti satu bayangan yang mendominasi dari semua yang aku pikirkan adalah :”Mama”.

Kerinduanku pada mama lah sebenarnya yang menganggu sejak dua minggu yang lalu. Tapi entah mengapa, tiba-tiba perasaanku menjadi tidak karuan. Haruskah aku bersedih, menangis, atau malah aku harus menjerit? Tidak! Aku tidak mungkin melakukan semua itu. Aku harus kuat, aku harus tabah. Kuyakin, mama telah tenang di alam sana. Lagipula, aku masih punya papa, kakak dan saudara-saudara yang sayang padaku. Read the rest of this entry »

Oleh  Anggit Fajarwati

 

Beberapa hari terakhir ini pandanganku tak lagi lurus ke depan. Aku banyak mendongak. Bahkan kadang menengok ke belakang. Mengingat masa ketika kami masih tinggal di kota besar dan ayah masih bekerja di perusahaan bonafid. Masa-masa indah sebelum ayahku di PHK karena pengurangan karyawan. Ayah terpaksa mengajak kami pulang kampung. Tinggal di kota kecil dan memulai kehidupan baru. Itu terjadi sekitar 3 tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di bangku SMP.

Ayah selalu menanamkan pentingnya bersyukur atas hidup kami. Bersyukur karena kami masih bisa hidup berkecukupan, meskipun sederhana. Akan tetapi, akhir-akhir ini, entah mengapa rasa syukur itu hilang. Aku selalu membandingkan kehidupanku dengan orang lain. Rasa iri selalu menggelayuti hari-hariku. Aku iri melihat teman-temanku hidup dengan berbagai fasilitas yang tersedia. Setiap keinginan pasti mampu dipenuhi oleh orang tua mereka. Sementara aku? Banyak keinginan yang tidak bisa terwujud. Ingin ganti handphone saja susahnya bukan main. Bagaimana ganti laptop atau motor matic terbaru yang seperti teman-teman punya ? Mustahil. Rasa syukur yang selama ini selalu ditanamkan oleh kedua orang tuaku tergilas oleh berbagai keinginan yang sangat mengganggu. Itu semua menimbulkan rasa sakit dan keresahan tiada henti. Read the rest of this entry »

Oleh Liliek Lestari

 

Senin, 12 November tahun ini beda dengan Senin yang lain. Pukul 06.40 seluruh siswa SMP 1 sudah disiapkan di lapangan basket tempat biasa mereka melakukan upacara. Setiap kelas berbaris dengan rapi berseragam putih-putih dengan topi, dasi serta blasser biru langit. Terlihat bersih dan gagah.

Bunga ada di barisan depan paling selatan. Berselempang biru tua yang tepiannya berumbai kuning emas dari pundak melingkar ke pinggang. Wajahnya terlihat tenang dan datar. Pembawa acara membaca acara berikutnya, saatnya pasukan yang diketuai Bunga maju ke tengah lapangan. Bunga maju dengan tegap. Beberapa siswa terlihat terpesona, kagum. Read the rest of this entry »

Oleh : Elkado Pamor Handaru ( 7D -2013 )

“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah & putih, maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!”
- Bung Tomo -

Read the rest of this entry »

Karya : Fawwas Sabrina R ( 7B – 8 – 2013)

Sekolahku…
Tempatku menimba ilmu
Tempatku temukan hal baru
Tuk tentukan jalan hidupku
Sekolahku…
Tlah tersimpan berjuta ilmu
Tlah ku asah kemampuanku
Tlah ku berikan segala usahaku
Sekolahku…
SMP Negari Satu
Sekolah yang kucinta slalu
Sekolah yang slalu membimbingku
Agar ku gapai cita-cita ku
Sekolah ku….
Sebagai jalan agar berkarya slalu
Sebagai jembatan ilmu
Tuk pendidikan bangsaku
Demi kemajuan negeriku

Oleh : Dava Rahma Satria Wibawa 7G -04/ 2013

 Dava 7G

Indonesiaku…

Hamparan luas Negeri ini dari Sabang sampai Merauke

Dengan indah dan subur hijau hutan-Mu

Lautan biru yang luas

Dan alam-Mu yang kaya akan flora dan fauna…

Membuat Negri-Mu sangat Indah

Read the rest of this entry »

Oleh : Putri Maulita Islami (7G – 2013)
Langit kelabu kian membisu
Hamparan awan menjadi Satu
Mega-mega semakin hitam

Langit kelabu kian membisu
Hamparan awan menjadi Satu
Mega kelam semakin menghitam
Membendung lara yang sesak
Bak kalbu berhujan riuban jarum

Sesulit apapun ku berusaha berkata “Tidak”
Walau nurani ingin berucap “Iya”
Biarkan hati ini terluka
Di kala banyak hati tertawa
Relakan jiwa ini tersayat
Dan banyak jiwa tersenyum manja

Kalender
May 2019
M T W T F S S
« Apr    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Categories
Archives