Oleh: Sugeng Subagya

A. Pendahuluan

Setiap kali menjadi narasumber pelatihan menulis untuk guru, selalu muncul pertanyaan dari peserta. Bisakah saya menulis opini dan dimuat di koran?

Pasti bisa! Tidak ada penulis opini yang langsung terkenal. Semua dari bawah. Salah satu cara belajar yang baik untuk menulis opini: membaca opini-opini dari penulis terkenal. Pelajari kalimat dan bagaimana sang penulis mengungkapkan buah pikirannya.

Untuk itu perlu kerja keras, pantang menyerah, tangguh, tidak mudah putus asa, telaten, cermat, terbuka, tahan banting, tidak alergi dikritik, kritis yang maton, dan berwawasan luas.   

B. Konsep Dasar

Menulis opini berarti menyebarluaskan gagasan. Dengan menulis opini seseorang   mentransfer gagasannya ke ruang publik dan berusaha mempengaruhi publik dengan tujuan agar gagasannya diterima atau diperdebatkan. Seorang penulis opini harus siap gagasannya diperdebatkan.  

Menulis opini sama halnya dengan ”rekreasi intelektual”, yaitu mengasah otak, menajamkan pikiran, menantang munculnya ide-ide baru, dan memberi tantangan pendapat orang dengan argumentasi yang siap untuk diperdebatkan.

Siapa pun  bisa dan mampu menulis opini.  Setiap orang  memiliki pendapat berdasarkan pengetahuannya. Ketika pendapat itu ditulis secara argumentatif, berarti ia telah mampu menulis menulis opini.  

Di Indonesia, hampir semua media massa menyediakan rubrik opini. Semuanya menyediankan imbalan berupa honorarium untuk opini yang dimuat. Besar kecilnya honorarium tergantung kapasitas penulis dan kemampuan finansial media massa yang bersangkutan.

Artikel opini beraneka ragam. Bisa tentang masalah sosial, politik, agama,  pertanian, perkebunan, pertambangan, hukum, pendidikan, kebudayaan, dan lain sebagainya.

Penulis dengan latar belakang bidang yang dikuasainya, akan mendapat tempat khusus di media massa jika ia menulis opini tentang bidang yang dikuasainya tersebut. Karena dia dinilai memiliki otoritas. Kita mengenal nama penulis Ki Supriyoko untuk masalah pendidikan, Indra Tranggono untuk kebudayaan dan kesenian, Aprinus Salam untuk bidang sastra dan kesusastraan, Ari Sujito untuk masalah-masalah sosial, Sari Murti Widyastuti untuk bidang hukum perlindungan  anak dan jender, atau nama Mahfud MD untuk bidang hukum konstitusi, dan Zainal Arifin Mochtar jika berkaitan dengan masalah-masalah korupsi.

Mereka tidak langsung menjadi penulis opini terkenal. Mereka juga belajar, melalui banyak tahap. Tetapi, yang jelas mereka memiliki kompetensi yang membuat masyarakat  mengakui,  mereka memang layak untuk menulis soal atau masalah yang mereka tulis tersebut.

C.    Antara Opini dan  Kolom

Ada perbedaan antara opini dengan kolom pada media massa.  Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan Balai Pustaka menyebutkan, opini adalah ”pendapat; ”pikiran,” atau ”pendirian,”

Opini memang bisa diartikan sebagai pandangan seseorang tentang suatu masalah. Tidak sekadar pendapat, tetapi pendapat ilmiah, pendapat argumentatif. Pendapat yang bisa dipertanggungjawabkan berdasar dalil-dalil ilmiah yang disajikan dalam  bahasa yang lebih  popular. Karena itulah, untuk menulis opini juga dibutuhkan riset. Sekalipun berupa riset sederhana. Riset merupakan penguat dari argumentasi penulis untuk menekankan gagasannya. Opini inilah yang ditulis dan dituangkan dalam bentuk ”artikel.”

Sedangkan kolom adalah opini yang ”lebih cair” dalam gaya bahasanya. Penulis kolom biasanya tidak saja mereka yang dikenal memiliki keahlian dalam bidang yang ditulisnya, tapi juga memiliki style –gaya-spesifik. Itu sebabnya penulis kolom disebut ”kolomnis” D. Bagaimana Menjadi Penulis Opini?

Untuk menulis opini dibutuhkan modal berupa pengetahuan akan bidang/masalah tertentu, ide dan gagasan, argumentasi gagasan, teknik penulisan opini, pengetahuan bahasa, dan pengetahuan tentang media massa.

  1. Pengetahuan bidang/masalah tertentu.

Penulis opini memiliki otoritas bidang yang memang layak bagi dia untuk diketengahkan kepada masyarakat. Ini bekal utama seorang penulis opini. Jika ia ahli pertanian, tentu masyarakat akan percaya akan seluk beluk tanaman yang ditulisnya daripada yang menulis seorang sarjana hukum.

Pengetahuan bidang tertentu ini sangat penting, juga terutama untuk ”legitimasi” diri seorang penulis di depan publik.

  1. Ide dan gagasan

Ide merupakan barang termahal yang dimiliki penulis, siapa pun penulis itu. Ide bisa tumbuh dari mana pun. Penulis yang terlatih tidak pernah kehabisan ide untuk menulis opini. Ide bisa muncul di mana pun. Seorang penulis biasanya langsung menulis ideide yang didapatnya  begitu ide itu muncul. Ide itulah yang kemudian dikembangkannya begitu ada waktu untuk menulis. Misalnya, seorang penulis membaca atau mendapati kenyataan tentang pro-kontra istana negara digoyang Farel Prayoga dengan lagu “ojo dibandingke” sesaat setalah upacara peringatan detik-detik proklamasi 17 Agustus 2022. Penulis opini kemudian mendapat ide, membandingkan fenomena ini dengan lima atau sepuluh tahun sebelumnya dan kemudian menganalisa sebab musabahnya.

Analisanya tidak sekadar di permukaan fenomena, melainkan bisa masuk lebih dalam tentang pemaknaan “perigatan” dan “perayaan” dalam hari ulang tahun.

  1. Argumentasi gagasan

Argumentasi pasti dimiliki seorang penulis memang menulis bidangnya. Argumentasi berkaitan pengetahuan bidang yang dimiliki seorang penulis. Argumentasi penting karena di sinilah pembaca akan mengetahui ”kadar” keilmuan seorang penulis opini. Semakin kuat dan logis argumentasi yang ditampilkannya,  akan semakin memperkuat gagasan yang ditulisnya.

  1. Teknik penulisan opini

Penulisan  opini di media massa berbeda dengan penulisan karya ilmiah di media ilmiah (jurnal misalnya). Pembaca media massa sangat beragam. Karena itu, penulisan opini di media massa harus memakai bahasa yang komunikatif, tidak bertele-tele, dan ringkas. Kecenderungan pembaca kini adalah membaca tulisan yang tidak panjang, enak dibaca,  dan gampang dicerna.

  1. Pengetahuan bahasa

Kegagalan penulis opini dari kalangan ilmiah biasanya terletak pada penggunaan bahasa. Penulis opini dari latar belakang ilmiah harus belajar untuk memakai bahasa yang gampang dimengerti masyarakat, sehingga bahasa yang ditulisnya, efektif, efisien, dan mudah dimengerti tanpa meninggalkan kaidah-kaidah berbahasa yang baik dan benar. Kata-kata yang berlebihan dan tidak fungsional tidak perlu dipergunakan.

Misalnya: “dengan”, “akan”, “ini”, “itu”, ”oleh,” ”adalah,”  ”itu,” ”tersebut”, dan sebagainya.

Jika pun penulis opini ingin menampilkan istilah asing, ia  harus pula mencari padanan  dalam bahasa Indonesia. Penulis opini bahkan tidak usah khawatir untuk menampilkan idiom-idiom bahasa daerah jika dipandang menarik.

Jangan sampai menganggap pembaca opini sama tahunya seperti penulisnya.

  1. Pengetahuan media massa

Pengetahuan tentang media massa penting diketahui penulis opini agar tulisannya bisa dimuat. Dengan mempelajari karakteristik media massa penulis dapat melihat konsen

(perhatian) media massa tersebut, ragam artikel yang “digemari”, dan fokus masalah yang digeluti. Menulis opini untuk surat kabar KOMPAS tidak sama dengan Kedaulatan Rakyat atau Harian Jogja atau SOLOPOS.  Dengan pengetahuan seperti ini, maka seorang penulis opini tahu, ke mana artikel yang dibuatnya itu akan dikirim.

  1. Bagaimana Supaya Opini Dimuat di Media Massa?

 

  1. Ada peg/cantolan peristiwa

Seperti berita, opini pun memerlukan peg–cantolah peristiwa. Tujuan peg ini adalah agar opini ini relevan dengan yang sedang terjadi atau sedang menjadi pembicaraan masyarakat. Semakin ada peg-nya, kemungkinan opininya dimuat semakin besar. Peg ini bermacam-macam. Bisa peristiwa yang tidak diduga, atau juga peristiwa yang sudah direncanakan pasti terjadi. Misalnya, menyambut tahun ajaran baru (tentang pendidikan), peringatan ulang tahun, implementasi kebijakan kurikulum merdeka, rapor pendidikan, nasib guru honorer, dan lain-lain.

  1. Angle yang menarik

Jika peg itu sudah didapat, maka penulis tinggal mencari angle/sudut pandang. Menulis apa dan dari sudut pandang apa? Angle  yang tepat mampu menajamkan opini penulis satu dengan penulis lain. Carilah angle yang paling berbeda, unik, dan mungkin orang tidak terpikirkan.

  1. Eksplorasi gagasan dan argumentasi

Inilah argumentasi yang harus dibangun dan dimiliki penulis untuk menguatkan opininya. Untuk membangun argumentasi, penulis opini bisa menyodorkan data atau contoh-contoh peristiwa.

  1. Tidak menggurui

Isi tulisan opini harus dihindarkan dari kesan menggurui. Jangan sampai mengesankan penulisnya unjuk kepintaran. Tidak terlalu banyak menampilkan kutipan atau sumbersumber literatur dalam opini merupakan cara mengurangi menggurui pembaca.  Lebih baik  menampilkan contoh keseharian yang kekinian dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

  1. Membaca ulang dan self correction

Begitu tulisan opini selesai tidak seharusnya serta-merta dikirim ke redaksi media massa. Membaca ulang berkali-kali memberikan jaminan tulisan opini yang lebih sempurna. Salah ketik hingga kata, kalimat, alinea yang tidak “nyambung” segera dapat diperbaiki.

 

F.Teknik Menulis Opini

Untuk menghasilkan tulisan opini yang baik, setidaknya harus dipenuhi empat bagian dalam konstruksinya, ialah judul, alinea pembuka, isi (batang tubuh), alinea penutup (ending).

  1. Judul

Judul tulisan dibuat menarik, eyes catching, memikat. Judul tidak panjang (cukup tiga atau empat kata) dan memakai kata-kata yang tidak klise tetapi menggugah.

Judul tidak mesti dibuat lebih dulu. Bisa belakangan, setelah tulisannya selesai.

  1. Aline pembuka dan lead

Lead menjadi bagian penting sebuah tulisan. Lead seperti etalase, dia harus dibuat menarik. Lead sebagai kalimat pembuka seperti “kail” yang menarik minat pembaca. Ia seperti lokomotif yang membuat  mata dan pikiran pembaca untuk terus mengikuti kalimat dan buah pemikiran penulis selanjutnya.

Lead dalam opini berfungsi membawa pembaca mengerti masalah yang dibicarakan oleh penulis.

  1. Isi tulisan (batang tubuh)

Inilah ”daging” sebuah opini. Penulis menuangkan gagasan dan ide-idenya pada batang tubuh. Bagian ini berisi:

  1. gagasan yang ditawarkan
  2. argumentasi gagasan
  3. contoh-contoh dengan menampilkan data-data yang relevan dan menunjang.
  4. keuntungan dan kerugian jika gagasan diterapkan atau tidak diterapkan.

 

  1. Alinea penutup (ending)

Bagian ini bisa dibilang merupakan kesimpulan dari tulisan opini. Kendati penutup, penulis opini tetap harus menganggap ini bagian penting. Untuk mengulang dan mengingatkan pembaca akan gagasan yang ditawarkannya.

G. Outline

Outline adalah semacam alur yang dibuat dengan mencantumkan segala hal yang direncanakan akan dituangkan pada sebuah opini. Outline ini juga untuk mengingatkan penulis agar tetap fokus atau tidak lupa pada hal-hal yang sejak awal ia tetapkan untuk ditulis. Outline bentuknya adalah pointer-pointer.

H. Penutup

Menulis opini berarti memberikan wawasan dan pengetahuan untuk orang lain. Berbagi informasi, data, juga pengalaman.  Menulis opini mestinya dilakukan dengan suka cita tanpa beban.

 

Yogyakarta, 20 Agustus 2022